Kamis, 27 Des 2018 15:19 WIB

Saran Dokter Paru Terkait Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Kireina S. Cahyani - detikHealth
Kondisi aktivitas Anak Krakatau (Foto: Antara Foto)
Jakarta - Meningkatnya aktivitas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebaran debu yang dikeluarkan ini semakin meluas. Sebaran abu yang terbawa angin ini memaksa masyarakat untuk terus menerus menghirupnya. Perlu diwaspadai ternyata abu ini memiliki dampak buruk bagi kesehatan bila terus terhidup dalam jangka waktu yang lama.

dr Feni Fitriani Taufik, Sp P(K), M Pd Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)- RSUP Persahabatan mengatakan, dalam situasi seperti ini sebaiknya untuk selalu memperhatikan peringatan dan sebaiknya menghindari aktivitas di luar rumah. Dalam usaha menghindari abu ini cara paling amannya ialah dengan tetap berada di dalam rumah.

"Nah jika tinggal di dalam rumah, jangan lupa untuk menutup selalu jendela dan pintu dengan rapat untuk meminimalkan masuknya debu vulkanik masuk ke dalam rumah," ujar dr Feni saat diwawancarai detikHealth, Kamis (27/12/2018).



Menurut dr Feni bila keadaan memaksa untuk harus berkendaraan ke luar rumah jangan lupa untuk selalu perhatikan jarak pandang. Jika keluar rumah menggunakan mobil usahakan juga untuk selalu menutup jendela rapat-rapat, supaya udara luar tidak masuk le dalam mobil dan mengatur sirkulasi AC.

"Bila beraktivitas di luar rumah, usahakan untuk selalu gunakan masker. Memang yang baiknya itu menggunakan masker N95, namun dalam situasi seperti ini apapun jenis maskernya tentu akan sangat menolong. Persiapkan juga untuk masker cadangan bila masker terkena lembap, dan lain sebagainya," ucap dr Feni kepada detikHealth.

Dokter paru ini juga menyarankan bila keluar rumah untuk selalu menggunakan alat pelindung lainnya seperti kacamata dan gunakan baju lengan panjang untuk menghindari abu ini menempel di tubuh kita, karena debu abu vulkanik ini mengandung bahan-bahan kimia yang dapat membuat kulit iritasi.

"Dan yang harus selalu menjadi perhatikan ita ialah populasi yang rentan terhadap dampak aktivitas vulkanik ini. Seperti pasien asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) serta penyakit paru kronik lainnya. Usahakan untuk selalu mempersiapkan obat-obat yang diperlukan dengan lebih cermat dan teliti seperti salah satunya adalah obat pelega napas," pungkas dr Feni.

(up/up)