Sabtu, 29 Des 2018 16:06 WIB

MCK Terbatas, Pengungsi Tsunami Rentan Terkena Diare

Rosmha Widiyani - detikHealth
Posko pencarian korban tsunami Selat Sunda. Foto: Antara Foto Posko pencarian korban tsunami Selat Sunda. Foto: Antara Foto
Jakarta - Proses evakuasi pada korban tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) terus berlangsung. Pada hari ke-7 di Kabupaten Pandeglang terdapat lebih dari 33.000 pengungsi. Saat ini, jumlah pengungsi bisa mencapai puluhan ribu dari Propinsi Banten dan Lampung.

Peningkatan jumlah pengungsi belum diiringi pemenuhan fasilitas, salah satunya Mandi Cuci Kakus (MCK). Dalam rilis yang diterima detikHealth dari Prof DR dr Ari Fahrial Syam SpPD (K), keterbatasan MCK menyebabkan pengungsi rentan terkena diare. Kondisi diperparah dengan pengungsian yang sangat padat dan sampah yang berserakan.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut menyarankan pembangunan sarana MCK yang memadai. Sarana tesebut memiliki persediaan air bersih yang cukup, sabun, dan peralatan mandi lainnya. Kecukupan sarana MCK dan kebersihan pengungsi menekan risiko terkena penyakit infeksi. Selain diare, penyakit tersebut adalah Infeksi Saluran Napas Atas (ISPA) dan gatal-gatal.


Selain pemenuhan sarana MCK, Prof Ari juga menyoroti pentingnya kebersihan tangan. Pengungsi sebaiknya cuci tangan atau menggunakan antiseptik sebelum menyentuh makanan. Kebersihan tangan sangat penting untuk mencegah infeksi usus selama di pengungsian.

Tentunya, makanan yang dikonsumsi pengungsi harus dalam kondisi baik. Makanan diolah di dapur dengan air, bahan, dan peralatan yang bersih. Makanan sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi fresh, atau dihangatkan kembali jika sudah lewat waktunya.

Seiring risiko dan jumlah pengungsi yang terus meningkat, Prof Ari mengingatkan pentingnya persediaan oralit dan obat antidiare. Obat lain yang wajib ada adalah penurun panas dan sakit kepala. Prof Ari berharap tindakan ini bisa mencegah pengungsi jatuh sakit, Kejadian Luar Biasa (KLB) diare, atau keracunan makanan. Sehingga, pengungsi bisa melalui hari-harinya dalam kondisi sehat jasmani dan rohani.

(fds/fds)