Jumat, 04 Jan 2019 17:24 WIB

Disangka Sakit Mental, Gadis Ini Rupanya Idap Radang Otak Langka

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi sakit kepala akibat radang otak. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Mariana Tana mengalami halusinasi visual dan auditori, kejang, muntah dan sakit kepala saat berusia 15 tahun. Akan tetapi saat dibawa ke rumah sakit, pihaknya sempat tak memercayai gejala yang dialaminya dan menganggapnya hanya berpura-pura.

"Mereka (petugas ambulans) berkata kejang-kejang biasanya tidak seperti itu dan aku hanya berpura-pura," kata Mariana, kini berusia 18 tahun, dikutip dari ABC News.

Gejala-gejala yang dialaminya sangat parah hingga membuatnya tak dapat datang ke sekolah dan sempat berencana untuk mengakhiri hidupnya karena merasa dirinya gila. Psikiater mendiagnosisnya dengan beberapa kondisi berbeda termasuk skizofrenia, bipolar dan multiple personality disorder atau gangguan kepribadian ganda.

Hingga akhirnya gadis asal Sydney tersebut dirujuk ke Institute of Clinical Pathology and Medical Research di Westmead Hospital. Di mana seorang dokter di sana menemukan antibodi di dalam darahnya yang dicurigai menyerang sel-sel otak yang sehat.


Ia mendiagnosis Mariana dengan penyakit autoimun yang luar biasa langka dan baru-baru ini teridentifikasi, yakni anti-NMDA receptor encephalitis yang menyebabkan peradangan di otak. Dan hal ini sungguh menantang karena Mariana justru tak menampakkan gejala khusus dari penyakit tersebut.

Jika tak segera ditangani atau terdiagnosis dini, encephalitis bisa menyebabkan disabilitas permanen. Namun para dokter menyatakan bahwa masih banyak riset dan penelitian perlu dilakukan untuk penyakit ini, karena sejumlah kecil pasien justru ditangani untuk masalah mental pertama kali, bukannya ditangani sesuai dengan penyakit encephalitis.

Usai diberikan pengobatan yang tepat dan menjalani perawatan plasma darah, kondisi Mariana berangsur-angsur membaik. Penyakit ini sempat membuatnya keluar dari sekolah, namun kini ia dapat kembali bersekolah dan lulus dengan nilai yang baik.

"Sungguh luar biasa bagiku untuk merasa lebih baik setelah lama berpikir aku tidak akan bisa meraih apa-apa. Aku berharap bisa belajar menulis dan konseling di universitas nanti," pungkasnya.

(frp/up)