Senin, 07 Jan 2019 16:07 WIB

Pernah Dimintai Foto Telanjang Bermodus 'Penelitian'? Catat Saran Ini

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi menjaga privasi melalui ponsel. Foto: Spencer Platt/Getty Images Ilustrasi menjaga privasi melalui ponsel. Foto: Spencer Platt/Getty Images
Jakarta - Dana Paramita hampir saja menjadi korban modus 'penelitian' kedokteran yang memintanya mengirimkan foto naked alias foto telanjang. Modusnya, pelaku menggunakan akun media sosial (medsos) temannya.

Wanita yang tinggal di Jakarta ini pun berniat membantu temannya itu karena diakuinya adalah seorang yang baik. Namun ternyata, itu hanya kedok dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Mengalami hal yang tentunya tidak menyenangkan ini, Dana berpesan agar lebih bisa untuk menghargai privasi sendiri dengan tidak seenaknya mengirimkan foto-foto anggota tubuh sekalipun kepada teman.

"Kita harus lebih menghargai privasi kita sendiri, jangan gampang banget share-share foto," sarannya saat dihubungi detikHealth, Senin (7/1/2019).

"Jangan gampang percaya sama orang lain, walau itu teman sendiri. Pokoknya harus double check," lanjutnya.

Dana mengatakan bahwa oknum pelaku cukup cerdas dalam memilih korbannya. Sebelumnya, pelaku diduga telah mengamati korban yang sebagai mahasiswa kedokteran yang akan dipakai namanya untuk mengelabui korban-korban lainnya.

"Penipu ini canggih. Dia mengamati social media mahasiswa kedokteran dan circle pertemanannya," ungkapnya.



Selain itu, setiap mahasiswa kedokteran yang ingin meneliti seseorang sebagai samplingnya harus melalui informed consent. Hal ini juga ditegaskan oleh Praktisi kesehatan yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Ari Fahrial Syam, SpPD.

"Saat ini penelitian yang dilakukan dengan pemeriksaan harus melalui informed consent," katanya kepada detikHealth, Minggu (6/1/2019).

Informed consent artinya, seseorang yang dimintai data untuk penelitian harus mendapat penjelasan dengan sangat detail. Mulai dari tujuan penelitian, maupun konsekuensi atas pengambilan data tersebut. Karenanya, dr Ari menganggap permintaan foto bagian tubuh sulit dilakukan secara online.

(wdw/up)