Jakarta -
Cukup foto yang bersuara, ungkapan itu mungkin ada benarnya. Tren #10YearsChallenge banyak diikuti oleh para selebriti atau influencer yang ada di media sosial, namun kali ini kisah datang dari teman-teman yang berhasil mengalahkan kanker.
Para survivor kanker ini mengungkap sisi lain 10 tahun silam mengenai perjuangan mereka untuk bisa bertahan menjalani hidup hingga menjadi sesukses sekarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siap-siap merinding dengan kegigihan mereka untuk bangkit melawan kanker.
Rama Adi Wijaya (18)
Foto: detikHealth
|
Tahun 2009, Rama masih dalam masa pemulihan untuk menjadi survivor kanker leukemia ALL sepenuhnya. Saat itu hidupnya masih cukup membuatnya merasa terpuruk. Ia mendapatkan banyak peraturan dan larangan dari keluarga, dikucilkan oleh teman-teman di lingkungan rumah, juga selalu dianggap remeh oleh teman-teman sekolah saat duduk di bangku SD. Tidak jarang pula, ia berselisih dengan orangtuanya yang saat itu ia sebut masih over protective."Untungnya saya masih mempunyai 2 orang yang selalu pengertian dan paham apa kemauan saya, mereka adalah kedua kakek saya. Saat itu saya merasa ada orang yang begitu paham dengan kondisi saya, saya mempunyai sosok untuk berbagi cerita," kisahnya.
"Namun itu tidak berlangsung lama karena Allah memanggil mereka berdua begitu cepat. Saya pun harus berteman lagi dengan 'sepi'. Saat itu hidup saya merasa hampa, saya selalu berbicara sendiri 'apa arti hidup saya? Saya hidup untuk siapa?' pertanyaan-pertanyaan itu sering saya tanyakan," tambahnya.
Masuk di bangku SMP, Rama mulai memiliki teman yang bisa menerimanya sebagai survivor kanker. Hidupnya semakin berwarna. Belum lagi di tahun 2014, ia diamanahkan oleh guru mengajinya untuk mengajar di TPA dekat rumah.
"Mulai saat itu sedikit demi sedikit saya dapat merubah pandangan orang di lingkungan, mereka yang berpikir saya anak yang tidak bisa apa-apa, bahkan enggak jarang juga ada yang bilang 'anak sisa hidup'," kenangnya.
Tahun 2015 Rama bergabung di cancer buster community komunitas (CBC), ia pun seperti menemukan keluarga baru. Tapi bukan itu titik balik Rama.
"Titik balik saya terjadi pada saat 2017 (kelas 1 SMK) ketika saya melihat mamah melahirkan adik saya yang kedua, di situ saya belajar bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Saya tersadar mungkin larangan-larangan orang tua saya dulu, itu karena mereka enggak pengin saya terkena sakit untuk yang kedua kalinya. Dan saat itu pula saya bertekad ingin membuat kedua orang tua saya bangga," tandasnya.
Cindy Audina (22)
Foto: detikHealth
|
Sepuluh tahun adalah masa di mana Cindy menjalani hidup yang baru. Ia mengibaratkan proses dari kepompong menuju kupu-kupu dengan sayap yang indah setelah berhasil melawan leukemia dan kanker kelenjar getah bening. Rambutnya mulai tumbuh, ia mulai bersekolah lagi, dan sudah mulai bergaul dengan teman-temannya lagi.
"Sekarang setelah 10 tahun berlalu, aku sudah bisa jadi kupu-kupu yang bekeliaran, yang setidaknya sudah dipandang lewat karya aku, prestasi aku. Kalau dulu mungkin orang masih mandang sebelah mata karena aku botak, masih pakai masker, badannya kurus kering," kenang Cindy.
Kini ia sudah sembuh dan menelurkan buku 'Nama Tengahku Mukjizat'. Ia ingin menjadikan dirinya sebagai 'petani harapan' bagi pasien yang kini tengah menjalani fase yang dulunya ia jalani pada 10 tahun silam.
"Jangan pernah takut berproses, kupu-kupu yang cantik itu dan emas sebagai logam mulia pun harus dibentuk, dilebur, dibakar, untuk menjadi suatu hal yang berharga," tandas Cindy.
Nigel Yogie Saputra (18)
Foto: detikHealth
|
Pada tahun 2009, Nigel masih dalam proses penyembuhan untuk menjadi survivor kanker leukemia sepenuhnya. Saat itu, ia sangatlah bersemangat karena sejumlah survivor kanker lain, kedua orangtuanya, dan kakak-kakaknya begitu mendukungnya. Akan tetapi, ia yang saat itu duduk di bangku SD merasa sedih karena ada beberapa teman yang tidak ingin bermain dengannya."Saat itu saya masih duduk di bangku SD dan ada teman yang ikut support saya, dan ada juga teman saya yang tidak mau berteman dengan saya karena takut ketularan oleh saya. Saya sangat sedih pada saat itu, tapi dengan adanya teman yang tidak mau berteman dengan saya justru bikin saya makin bertambah semangat buat buktiin ke mereka bahwa penyakit saya ini tidak menular dan bisa disembuhkan," ungkap Nigel kepada detikHealth.
Tak terasa, sepuluh tahun kemudian ia telah berhasil mengalahkan sel kanker di dalam tubuhnya. Ia terbukti membuktikan kepada teman-temannya yang dulu mengucilkannya bahwa ia mampu bisa bertahan hingga detik ini.
"Aku sangat berterima kasih banget sama Allah SWT masih kasih aku panjang umur dan selalu diberi kesehatan. Buat kaliann yang lagi berjuang jangan pernah putus asa ya, harus yakin bisa sembuh. Semangat adik-adikku!" pesan Nigel.
Oke deh Nigel, kisahmu menginspirasi sekali! Kita doakan teman-teman yang kini sedang berjuang melawan kanker bisa segera diberikan kesembuhan, ya.
Tahun 2009, Rama masih dalam masa pemulihan untuk menjadi survivor kanker leukemia ALL sepenuhnya. Saat itu hidupnya masih cukup membuatnya merasa terpuruk. Ia mendapatkan banyak peraturan dan larangan dari keluarga, dikucilkan oleh teman-teman di lingkungan rumah, juga selalu dianggap remeh oleh teman-teman sekolah saat duduk di bangku SD. Tidak jarang pula, ia berselisih dengan orangtuanya yang saat itu ia sebut masih over protective.
"Untungnya saya masih mempunyai 2 orang yang selalu pengertian dan paham apa kemauan saya, mereka adalah kedua kakek saya. Saat itu saya merasa ada orang yang begitu paham dengan kondisi saya, saya mempunyai sosok untuk berbagi cerita," kisahnya.
"Namun itu tidak berlangsung lama karena Allah memanggil mereka berdua begitu cepat. Saya pun harus berteman lagi dengan 'sepi'. Saat itu hidup saya merasa hampa, saya selalu berbicara sendiri 'apa arti hidup saya? Saya hidup untuk siapa?' pertanyaan-pertanyaan itu sering saya tanyakan," tambahnya.
Masuk di bangku SMP, Rama mulai memiliki teman yang bisa menerimanya sebagai survivor kanker. Hidupnya semakin berwarna. Belum lagi di tahun 2014, ia diamanahkan oleh guru mengajinya untuk mengajar di TPA dekat rumah.
"Mulai saat itu sedikit demi sedikit saya dapat merubah pandangan orang di lingkungan, mereka yang berpikir saya anak yang tidak bisa apa-apa, bahkan enggak jarang juga ada yang bilang 'anak sisa hidup'," kenangnya.
Tahun 2015 Rama bergabung di cancer buster community komunitas (CBC), ia pun seperti menemukan keluarga baru. Tapi bukan itu titik balik Rama.
"Titik balik saya terjadi pada saat 2017 (kelas 1 SMK) ketika saya melihat mamah melahirkan adik saya yang kedua, di situ saya belajar bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Saya tersadar mungkin larangan-larangan orang tua saya dulu, itu karena mereka enggak pengin saya terkena sakit untuk yang kedua kalinya. Dan saat itu pula saya bertekad ingin membuat kedua orang tua saya bangga," tandasnya.
Sepuluh tahun adalah masa di mana Cindy menjalani hidup yang baru. Ia mengibaratkan proses dari kepompong menuju kupu-kupu dengan sayap yang indah setelah berhasil melawan leukemia dan kanker kelenjar getah bening. Rambutnya mulai tumbuh, ia mulai bersekolah lagi, dan sudah mulai bergaul dengan teman-temannya lagi.
"Sekarang setelah 10 tahun berlalu, aku sudah bisa jadi kupu-kupu yang bekeliaran, yang setidaknya sudah dipandang lewat karya aku, prestasi aku. Kalau dulu mungkin orang masih mandang sebelah mata karena aku botak, masih pakai masker, badannya kurus kering," kenang Cindy.
Kini ia sudah sembuh dan menelurkan buku 'Nama Tengahku Mukjizat'. Ia ingin menjadikan dirinya sebagai 'petani harapan' bagi pasien yang kini tengah menjalani fase yang dulunya ia jalani pada 10 tahun silam.
"Jangan pernah takut berproses, kupu-kupu yang cantik itu dan emas sebagai logam mulia pun harus dibentuk, dilebur, dibakar, untuk menjadi suatu hal yang berharga," tandas Cindy.
Pada tahun 2009, Nigel masih dalam proses penyembuhan untuk menjadi survivor kanker leukemia sepenuhnya. Saat itu, ia sangatlah bersemangat karena sejumlah survivor kanker lain, kedua orangtuanya, dan kakak-kakaknya begitu mendukungnya. Akan tetapi, ia yang saat itu duduk di bangku SD merasa sedih karena ada beberapa teman yang tidak ingin bermain dengannya.
"Saat itu saya masih duduk di bangku SD dan ada teman yang ikut support saya, dan ada juga teman saya yang tidak mau berteman dengan saya karena takut ketularan oleh saya. Saya sangat sedih pada saat itu, tapi dengan adanya teman yang tidak mau berteman dengan saya justru bikin saya makin bertambah semangat buat buktiin ke mereka bahwa penyakit saya ini tidak menular dan bisa disembuhkan," ungkap Nigel kepada detikHealth.
Tak terasa, sepuluh tahun kemudian ia telah berhasil mengalahkan sel kanker di dalam tubuhnya. Ia terbukti membuktikan kepada teman-temannya yang dulu mengucilkannya bahwa ia mampu bisa bertahan hingga detik ini.
"Aku sangat berterima kasih banget sama Allah SWT masih kasih aku panjang umur dan selalu diberi kesehatan. Buat kaliann yang lagi berjuang jangan pernah putus asa ya, harus yakin bisa sembuh. Semangat adik-adikku!" pesan Nigel.
Oke deh Nigel, kisahmu menginspirasi sekali! Kita doakan teman-teman yang kini sedang berjuang melawan kanker bisa segera diberikan kesembuhan, ya.
(ask/up)