Jakarta -
Istri Ustad Maulana, Nuraliyah M. Nur Maunala, meninggal akibat kanker usus pada Minggu (20/01/2019). Ummi Naorah sapaan akrabnya berpulang di RS Bhayangkara Makassar pada pukul jam 16.21 WIB.
"Terus terang yang namanya hidup, akan ada segalanya akan ada harinya. Terima kasih kepada ummi Naorah, saya biasa panggil ummi Naorah," kata Ustad Maulana dikutip dari detikHot.
Menurut ahli pencernaan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Ari Fahrial Syam, kanker usus saat ini menjadi penyebab utama kematian pada pria dan wanita di seluruh dunia. Gejalanya penyakit ini sangat sederhana hingga kerap kali tidak diperhatikan, misal sulit atau terlalu sering Buang Air Besar (BAB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat wajib waspada bila memiliki beberapa faktor risiko yang meningkatkan peluang terkena kanker usus. Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa faktor risiko kanker usus.
Diet kaya daging merah
Foto ilustrasi: GettyImages
|
Terlalu banyak daging merah, yang dikonsumsi utuh atau diproses terlebih dulu, ternyata bisa meningkatkan risiko terkena kanker usus. Risiko berasal dari metode pengolahan daging yang menggunakan suhu tinggi, misal digoreng atau dibakar.Cara memasak menghasilkan bahan kimia yang meningkatkan risiko kanker."Untuk mencegah kanker, sebaiknya selalu terapkan pola makan sehat. Selain daging merah, setiap hari harus selalu mengonsumsi buah dan sayur untuk menekan risiko penyakit," kata dr Ari pada detikHealth.
Merokok
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Rokok hampir selalu menjadi faktor risiko kanker dan penyakit tak menular lain, misal diabetes dan gangguan jantung. Risiko ini tidak hanya untuk perokok aktif, tapi juga pasif yang menghirup asap dan terpapar zat beracun lainnya."Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada perokok aktif tapi orang-orang di sekitarnya yang menghirup asap rokok," kata dr Ari.
Dengan jumlah perokok yang terus naik, maka jumlah kasus kanker usus kemungkinan juga terus meningkat. Risiko semakin besar bila perokok ternyata juga mengonsumsi alkohol dalam kehidupan sehari-hari.
Kurang olahraga
Foto ilustrasi: Annissa Widya Davita/detikHealth
|
Dikutip dari situs Cancer Treatment Centers of America, kurang olahraga ternyata ikut meningkatkan risiko terkena kanker usus. Gaya hidup yang disebut sedentary life ini juga meningkatkan risiko obesitas, yang pada akhirnya ikut memperbesar peluang mengalami kanker usus.Olahraga untuk mencegah serangan kanker sebaiknya dilakukan setiap hari selama 30-40 menit. Jenis latihan yang dilakukan tidak hanya kardio tapi juga untuk meningkatkan massa otot.
Usia
Foto ilustrasi: iStock
|
Kanker memang bisa terjadi pada usia tua dan muda. Namun risiko terkena kanker usus meningkat pesat setelah berusia lebih dari 45 tahun.Dikutip dari National Cancer Institute, sekitar 95 persen kasus kanker usus ditemukan pada pasien berusia 45 tahun atau lebih tua. Usia pertengahan yang kerap ditemukan kanker usus adalah 68 tahun.
Sejarah keluarga
Foto ilustrasi: Thinkstock
|
Dalam beberapa kasus, gen dan faktor lingkungan meningkatkan risiko terkena kanekr usus. Sejarah keluarga memengaruhi rekomendasi dokter untuk melakukan colonoscopy, untuk mengetahui kemungkinan kanker usus. Jika ayah terkena kanker usus di usia 50 tahun, maka biasanya dokter merekomendasikan colonoscopy di usia 40 tahun.Pernah mengalami kanker usus sebelumnya, juga ikut meningkatkan risiko kembali terkena penyakit yang sama. Kanker bisa berlokasi di tempat yang sama, dekat, atau di areal alin misal usus besar atau anus.
Terlalu banyak daging merah, yang dikonsumsi utuh atau diproses terlebih dulu, ternyata bisa meningkatkan risiko terkena kanker usus. Risiko berasal dari metode pengolahan daging yang menggunakan suhu tinggi, misal digoreng atau dibakar.Cara memasak menghasilkan bahan kimia yang meningkatkan risiko kanker.
"Untuk mencegah kanker, sebaiknya selalu terapkan pola makan sehat. Selain daging merah, setiap hari harus selalu mengonsumsi buah dan sayur untuk menekan risiko penyakit," kata dr Ari pada detikHealth.
Rokok hampir selalu menjadi faktor risiko kanker dan penyakit tak menular lain, misal diabetes dan gangguan jantung. Risiko ini tidak hanya untuk perokok aktif, tapi juga pasif yang menghirup asap dan terpapar zat beracun lainnya.
"Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada perokok aktif tapi orang-orang di sekitarnya yang menghirup asap rokok," kata dr Ari.
Dengan jumlah perokok yang terus naik, maka jumlah kasus kanker usus kemungkinan juga terus meningkat. Risiko semakin besar bila perokok ternyata juga mengonsumsi alkohol dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari situs Cancer Treatment Centers of America, kurang olahraga ternyata ikut meningkatkan risiko terkena kanker usus. Gaya hidup yang disebut sedentary life ini juga meningkatkan risiko obesitas, yang pada akhirnya ikut memperbesar peluang mengalami kanker usus.
Olahraga untuk mencegah serangan kanker sebaiknya dilakukan setiap hari selama 30-40 menit. Jenis latihan yang dilakukan tidak hanya kardio tapi juga untuk meningkatkan massa otot.
Kanker memang bisa terjadi pada usia tua dan muda. Namun risiko terkena kanker usus meningkat pesat setelah berusia lebih dari 45 tahun.
Dikutip dari National Cancer Institute, sekitar 95 persen kasus kanker usus ditemukan pada pasien berusia 45 tahun atau lebih tua. Usia pertengahan yang kerap ditemukan kanker usus adalah 68 tahun.
Dalam beberapa kasus, gen dan faktor lingkungan meningkatkan risiko terkena kanekr usus. Sejarah keluarga memengaruhi rekomendasi dokter untuk melakukan colonoscopy, untuk mengetahui kemungkinan kanker usus. Jika ayah terkena kanker usus di usia 50 tahun, maka biasanya dokter merekomendasikan colonoscopy di usia 40 tahun.
Pernah mengalami kanker usus sebelumnya, juga ikut meningkatkan risiko kembali terkena penyakit yang sama. Kanker bisa berlokasi di tempat yang sama, dekat, atau di areal alin misal usus besar atau anus.
(fds/fds)