Jumat, 25 Jan 2019 16:59 WIB

Prevalensi Stunting di Provinsi NTT Masih Tinggi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Pencegahan gizi buruk di Pandeglang. (Foto: pool) Pencegahan gizi buruk di Pandeglang. (Foto: pool)
Jakarta - Meski prevalensi stunting dalam Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menunjukkan angka penurunan sebesar 30,8 persen, provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) terlampau memiliki persentase balita stunting cukup tinggi yakni 42,6 persen.

Untuk itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bersama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum, Pertanian, dan Industri mengarahkan program penanggulangan stunting di daerah yang memiliki prevalensi stunting tinggi.

"Stunting ada di seluruh Indonesia. Kita fokus kepada daerah yang stunting rate-nya relatif tinggi. Contoh daerah paling tinggi itu di NTT," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Prof Bambang Brodjonegoro, PhD, saat ditemui pada Agenda Hari Gizi Nasional di Kantor Kementerian Kesehatan, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (25/1/2019).



Prof Bambang melanjutkan, adanya fokus di area dengan prevalensi stunting tinggi bukan berarti daerah lain tidak mendapat perhatian. Sebab, stunting masih terjadi di semua provinsi di Indonesia.

"Intinya begini, bukan berapa daerah yang akan diintervensi tapi ujungnya yaitu tingkat stuntingnya. Kita berhasil menurunkan, tentunya kita punya ambisi turun terus," ujarnya.

Karena dengan angka 30 persen saat ini jumlahnya masih sangat besar yang bahayanya akan menciptakan kemiskinan di masa depan," pungkasnya.

(kna/up)
News Feed