Jumat, 15 Feb 2019 08:22 WIB

Tradisi 'Booking Jodoh' di Jateng Disebut Menyimpan Risiko

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi booking jodoh. Foto: iStock Ilustrasi booking jodoh. Foto: iStock
Jakarta - Booking jodoh atau memilih calon istri sejak praremaja ternyata terjadi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pihak laki-laki memilih perempuan yang hendak dijadikan istri mulai usia 12 tahun. Bila kesepakatan terjalin antar keluarga biasanya dalam waktu 1-2 tahun keduanya akan menikah.

"Dalam budaya booking ini tidak heran jika ada perempuan yang sudah menikah sejak umur 14 tahun. Dalam budaya ini usia pasangan pria bisa berusia 18-41 tahun sehingga ada beda umur yang sangat besar. Pernikahan pada pasangan yang fisik dan mentalnya belum siap bisa berisiko bagi pembangunan keluarga dan masa depan kedua orang tersebut," kata Efa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam diseminasi hasil penelitian dan pengembangan kependudukan, keluarga berencana dan kesejahteraan keluarga dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kamis (14/02/2019).


Dalam booking jodoh tersebut, pihak laki-laki biasanya memberi kode yang menyatakan ketertarikan pada keluarga calon istri. Bila setuju, keluarga perempuan dipersilahkan 'main' ke rumah pihak laki-laki. Main merujuk pada kesepakatan resmi antar keluarga yang akan berujung pada pernikahan kedua pasangan.

Bila akhirnya terjadi ketidakcocokan biasanya terjadi perceraian pada pasangan yang telah menikah. Efa mengatakan, bukan hal aneh jika ada perempuan usia 20-an yang telah 3 kali menikah. Mereka umumnya bolak-balik kawin dan cerai dalam usia yang masih sangat muda.

Kondisi ini tak lepas dari tingkat ekonomi, pendidikan, dan budaya masyarakat setempat yang masih didominasi laki-laki. Kondisi ini bisa diperbaiki jika ada usaha sosialisasi terus-menerus tentang bahaya nikah dini, pembagian peran, serta perencanaan keluarga.




(Rosmha Widiyani/up)
News Feed