"Kita justru harus menahan jangan sampai mencapai 300 juta di 2045. Dengan jumlah yang tidak terlalu besar, kita bisa fokus pada peningkatan kualitas generasi produktif," kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Prof Sri Moertiningsih Adioetomo.
Baca juga: Dilema Kondom, Antara Zina dan Kontrasepsi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan TFR tak hanya dengan mengendalikan kehamilan, tapi juga usaha kesehatan lainnya. Misal sosialisasi pencegahan nikah dini, kesehatan reproduksi, dan perencanaan keluarga. Pengetahuan yang cukup memungkinkan calon orangtua mencegah anaknya terlahir Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau stunting.
Dengan usaha tersebut, beban yang akan ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak terlalu besar. Penghematan anggaran bisa digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, untuk memetik keuntungan bonus demografi.











































