Minggu, 24 Feb 2019 11:08 WIB

Nonton Video Porno, Otak Jadi Lebih 'Toleran' pada Perilaku Kekerasan

Aisyah Kamaliah - detikHealth
M pelaku incest di Lampung saat diperiksa penyidik. Foto: (ist) M pelaku incest di Lampung saat diperiksa penyidik. Foto: (ist)
Jakarta - Perilaku bejat incest oleh M (45) dan dua orang anaknya berinisial SA (23) dan YF (15) yang menyetubuhi AG (18) yang merupakan anak kandung serta adik dan kakak para pelaku yang menyandang keterbelakangan mental sudah menyentuh ranah hukum. Akan tetapi ada fakta mengejutkan yang mengikuti kasus tersebut.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tanggamus Ipda Primadona Laila, kepada detikNews menuturkan niat SA dan YF menyetubuhi korban karena dipicu seringnya nonton film porno di handphone milik SA. Korban bahkan kerap diajak menonton film porno bersama.

"Dari dua pelaku lainnya yaitu kakak kandung dan adik kandungnya motifnya hanya berdasarkan seringnya atau lazimnya mereka nonton video porno yang ada di handphone. HP itu merupakan milik kakak kandungnya yang saat ini kondisinya telah rusak," jelasnya.

Dr William Struthers, profesor psikologi di Wheaton College menuturkan kepada Fox News bahwa penelitian mengenai pornografi seperti air yang keruh.


"Banyak penelitian yang dipublikasikan pada 20 sampai 25 tahun lalu, dan ini sangat berbeda dari pornografi yang dikonsumsi anak muda sekarang. Kebenaran yang disayangkan adalah kita tidak bisa memantau pornografi yang diproduksi," kata Struthers.

Akan tetapi, satu hal yang diyakini Struthers yaitu sains psikologis dasar menunjukkan seringnya terpapar pada sesuatu seperti pornografi dapat menyebabkan normalisasi perilaku berbahaya dan menyakiti.

"Semakin kamu terpapar pada sesuatu, semakin kamu cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang dapat diterima, apakah itu kekerasan, perjudian, atau seksualitas," jelasnya.

Waduh bahaya banget ya, apalagi mengingat jenis video porno yang ditawarkan industri juga semakin beragam. Semisal saja BDSM (salah satu fantasi seksual yang menggabungkan antara bondage (perbudakan), domination (dominasi), sadism (sadisme), dan masochism (masokisme)) atau MILF yang sangat mengandung kontroversi.

Di sini Struthers sangat mengkhawatirkan efek psikologis yang sering terpapar konten porno pada pengembangan otak.

"Saya pikir pertanyaan yang benar-benar perlu kita tanyakan adalah, 'Apa efek sekunder yang dimiliki video porno, bukan pada apa yang mereka lakukan untuk perilaku seksual seseorang, tetapi apakah menonton porno memengaruhi kemampuan kita untuk mendeteksi isyarat seksual non-konsensual, atau instrumen seksual objektivitas?'"



Simak Juga 'Jepang Stop Jual Majalah Porno di Toserba Jelang Olimpiade':

[Gambas:Video 20detik]


Nonton Video Porno, Otak Jadi Lebih 'Toleran' pada Perilaku Kekerasan
(ask/up)
News Feed