Minggu, 24 Feb 2019 19:27 WIB

Berbagai Risiko Menyetubuhi Binatang, Alergi Fatal hingga Kanker Penis

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Zoofilia, salah satu perilaku seks menyimpang. Foto: iStock Zoofilia, salah satu perilaku seks menyimpang. Foto: iStock
Jakarta - Zoofilia atau ketertarikan seksual terhadap binatang kerap berakhir tragis. Peringatan untuk tidak meniru penyimpangan yang dituduhkan pada salah satu pelaku incest di Lampung, yakni menyetubuhi sapi dan kambing tetangga.

Disebutkan, YF (15) salah satu pelaku incest terhadap saudara kandungnya, pernah melakukan hubungan seksual dengan binatang. Perilaku meyimpang yang berhubungan dengan zoofilia ini dikenal dengan istilah beastility.

Dalam beberapa kasus yang pernah dilaporkan, beastility sering memicu dampak sangat fatal bagi kesehatan. Salah satunya terjadi pada tahun 2008, menimpa seorang wanita Irlandia yang berhubungan seks dengan anjing jenis German Shepherd.

Beberapa jam setelah melakukan aktivitas seks menyimpang tersebut, wanita ini dilaporkan mengalami anafilaksis atau reaksi alergi berlebihan. Gejalanya antara lain sesak napas, seperti pada alergi kacang, tetapi sangat buruk sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Wanita yang disebutkan juga memiliki kecenderungan fetish ini akhirnya meninggal dunia. Pemilik anjing 'meminjamkan' peliharaannya, juga sesama punya kecenderungan zoofilia, terancam hukuman seumur hidup.


Risiko lain lagi, sebuah penelitian di Brazil mengungkap bahwa beastility atau sex with animal (SWA) berhubungan juga dengan peningkatan risiko kanker penis. Dari 118 pasien kanker penis yang diteliti, 45 persen melaporkan pernah berhubungan seks dengan binatang.

Ahli urologi yang memimpin penelitian tersebut, Stenio de Cassio Zequi menyebut kemungkinan hal itu berhubungan dengan risiko micro-injuries atau cedera mikro. Diketahui, cedera mikro merupakan salah satu faktor risiko pada kanker penis.

"Kami pikir praktik SWA yang intens dan jangka panjang bisa menghasilkan trauma mikro pada jaringan penis manusia," jelasnya, dikutip dari Livescience.


Seementara pada 2018, moroccoworldnews.com pernah mengabarkan 15 remaja terinfeksi rabies. Diduga tertular setelah beramai-ramai 'memperkosa' seekor keledai. Seperti halnya kuda, keledai juga termasuk binatang yang paling sering menjadi objek beastility, di samping anjing di urutan pertama paling favorit.

Belakangan, kabar tersebut diralat dan dinyatakan sebagai kabar palsu alias hoaks. Virus lyssa penyebab rabies umumnya ditularkan melalui air liur saat digigit hewan pembawa, dan bukan melalui hubungan seks.

(up/up)
News Feed