Sabtu, 02 Mar 2019 16:57 WIB

5 Fakta Stroke yang Penting Diketahui

Rosmha Widiyani - detikHealth
Stroke bisa menyerang kapan saja (Foto: Thinkstock) Stroke bisa menyerang kapan saja (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Stroke masih jadi penyakit dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia. Salah satu sebabnya adalah masih minimnya penerapan pola hidup sehat di masyarakat.

Risiko serangan stroke bisa ditekan bila pasien segera mendapat penanganan. Hal ini terkait dengan kemampuan lingkungan sekitar mengenali serangan, serta kecepatan membawa pasien ke rumah sakit. Berikut beberapa fakta terkait stroke.



1. Terjadi di otak

Stroke adalah gangguan suplai darah ke otak yang terjadi akibat adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh. Sebanyak 70-80 persen kasus stroke disebabkan sumbatan yang menghalangi aliran darah ke otak.

"Untuk kasus sumbatan bisa diatasi dengan pemberian obat, yang sebetulnya tidak perlu teknologi canggih. Yang penting punya CT Scan dan tim penanganan stroke dengan dokter dari kompetensi yang mendukung, misal ahli saraf," kata Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) dr Musyid Bustami SpS (K), KIC, MARS pada detikHealth.

2. Bisa menyerang usia muda

Seiring rendahnya kesadaran olahraga, makan sayur dan buah, serta tidak merokok akibatnya usia pasien stroke makin muda. Hal ini memprihatinkan karena serangan stroke berisiko menurunkan produktivitas, serta meningkatkan beban negara.

"Pola hidup buruk meningkatkan risiko hipertensi, kadar kolesterol, dan diabetes hingga terjadi serangan stroke. Karena itu, penting memperbaiki pola hidup untuk mencegah stroke," kata dr Musyid.



3. Waspada tekanan darah lebih dari 130/80 mmHg

Tekanan darah lebih dari normal sebetulnya berisiko terkena stroke. Menurut dr Musyid, masyarakat wajib waspada jika tekanan darahnya lebih dari 130/80 mmHg apalagi bila terdiagnosa hipertensi.

Pasien dengan tekanan darah tinggi sebaiknya kontrol, konsumsi obat sesuai resep, dan menerapkan pola hidup sehat. Upaya tersebut bisa mencegah serangan stroke yang berisiko menimbulkan kecacatan hingga kematian.

4. Belum tentu cacat

Serangan stroke belum tentu menimbulkan kecacatan, bahkan dalam beberapa kasus bisa sembuh. Menurut dr Musyid secara umum 1/3 pasien stroke bisa kembali pulih tanpa cacat, 1/3 lainnya sembuh dengan cacat, dan sisanya tidak tertangani misal meninggal.

"Kesembuhan dan pencegahan disabilitas pada pasien stroke bergantung pada kecepatan serta ketepatan penanganan. Asal masih dalam golden periode selama 4,5 jam sejak serangan pertama hingga dapat penanganan, maka peluang pulih masih besar," kata dr Musyid.

5. Kenali serangan stroke

Serangan stroke bisa dikenali dengan FAST yaitu terjadinya face dropping, arm weakness, speech difficulties, dan time untuk segera memanggil bantuan. Gejala ini dapat dilihat wajah pasien yang tidak lagi simetris, kesulitan bicara, atau kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.

"Jika terjadi FAST sebaiknya segera ke rumah sakit tanpa perlu menunda. Menghadapi stroke, kita harus berpikir jelek dulu sehingga harus segera ke rumah sakit. Pikiran ini bukan stroke karena belum mengganggu kegiatan sehar-hari harus disingkirkan," kata Ketua Yayasan Indonesia Stroke Society dr Adin Nulkhasanah SpS, MARS.

(up/up)
News Feed