Kamis, 07 Mar 2019 08:47 WIB

3 Alasan Naik KRL Lebih Menyehatkan

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Perjalanan naik kereta memaksa seseorang untuk jalan kaki menuju stasiun (Foto: Jokowi naik KRL dok. Istimewa) Perjalanan naik kereta memaksa seseorang untuk jalan kaki menuju stasiun (Foto: Jokowi naik KRL dok. Istimewa)
Jakarta - KRL atau commuter line sering jadi pilihan para pelaju karena dianggap lebih efisien dan terhindar dari risiko macet, walau kadang harus berdesak-desakan pada jam sibuk. Dari sisi kesehatan, naik angkutan umum seperti kereta listrik seperti ini ternyata juga lebih menguntungkan dibanding memakai kendaraan pribadi.

Alasan pertama adalah karena angkutan umum memaksa seseorang untuk bergerak lebih banyak, antara lain untuk berjalan menuju stasiun atau terminal terdekat. Makin banyak bergerak, metabolisme meningkat dan karenanya tidak mudah gemuk.



Sebuah penelitian di University College London membuktikan hal itu. Dari hasil analisis Indeks Massa Tubuh (IMT) 7.424 orang pelaju di Inggris, didapati bahwa para pengguna angkutan umum memiliki selisih rerata IMT 0,9 hingga 1,1 poin lebih rendah.

IMT merupakan rasio antara berat badan dalam kg dibandingkan kuadrat berat tinggi dalam meter. IMT yang lebih tinggi dikaitkan dengan kegemukan dan berbagai risiko penyakit yang menyertainya.



Penelitian lain dilakukan dengan menganalisis data English National Travel Survey tahun 2010-2014. Didapati bahwa 2 dari 3 pengguna moda transportasi kereta harus berjalan kaki sekitar 30 menit menuju stasiun. Volume aktivitas fisik yang sama hanya didapat oleh 1 dari 5 pengguna moda transportasi lainnya yakni bus.

Aktivitas fisik ringan hingga sedang selama 30 menit tiap hari merupakan rekomendasi dari organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk menjaga tubuh selalu bugar. Bagi yang tidak punya waktu untuk nge-gym, jalan kaki dari dan menuju tempat kerja akan sangat besar manfaatnya.



Tetapi naik kereta juga bukan tanpa risiko. Risiko stres dan depresi meningkat pada pengguna kereta, bukan hanya karena harus berdesak-desakan di jam sibuk, tetapi juga karena efek tingkat kebisingan yang tinggi di stasiun.

Ini terungkap dalam sebuah penelitian di University of Toronto, Kanada. Penelitian ini menemukan bahwa 19.9 persen suara terbising berasal dari kereta bawah tanah yakni lebih dari 114 desibel. Dampak secara bisa dirasakan pada pendengaran, tetapi dalam jangka panjang bisa berpengaruh pada kesehatan jiwa.



"Kalau sudah kronis (paparan bisingnya, red) bisa terjadi gangguan sistemik yang signifikan seperti depresi, kecemasan, meningkatnya risiko penyakit kronis dan risiko kecelakaan," kata Vincent Lin, ilmuwan yang memimpin penelitian tersebut.

(up/up)
News Feed