detikhealth

'Pejuang' Kereta Rel Listrik Rentan Depresi, Ini Salah Satu Alasannya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 23/11/2017 16:38 WIB
Pejuang Kereta Rel Listrik Rentan Depresi, Ini Salah Satu AlasannyaSuara bising yang terdengar dari kereta setiap hari lama-kelamaan bisa memicu depresi bagi para pengguna KRL. (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta, Tergencet saat berjubel di dalam kereta bukan satu-satunya risiko kesehatan yang dihadapi para pejuang kereta rel listrik (KRL). Suara bising dari kereta konon juga memicu masalah.

Dr Vincent Lin dan timnya dari University of Toronto, Kanada baru-baru ini mengamati dampak terpapar suara bising pada pengguna KRL di kotanya.

Caranya, peneliti membandingkan suara bising dari subway, bis dan mobil, baik ketika sedang berkendara dengan mobil, bersepeda dan juga berjalan kaki. Untuk merekam suara-suara ini, peneliti juga menempelkan alat bernama 'noise dosimeters' di kerah baju mereka.

Hasilnya, 19,9 persen suara terbising berasal dari kereta bawah tanah, yaitu lebih dari 114 dB. Ini masih kalah dengan suara terbising ketika peneliti berkendara dengan mobil yang paparannya mencapai lebih dari 120 dB.

Begitu pula ketika naik bis. Suara terbising yang terdengar bisa mencapai minimal 114 dB, sedangkan saat bersepeda mencapai 117 dB.

Baca juga: Tinggal di Area yang Bising? Ini Cara Otak Beradaptasi Cegah Tuli

"Kami terkejut karena paparan bising yang pendek dan intens memiliki dampak yang sama besarnya dengan paparan suara yang tidak begitu intens namun terjadi secara terus-menerus dalam waktu lama," tuturnya seperti dilaporkan Medical Xpress.

Lin juga menemukan pengguna KRL atau moda transportasi lain yang terpapar bising berulang kali dan dalam kurun waktu yang panjang berisiko mengalami ketulian.

"Kalau sudah kronis (paparan bisingnya, red) bisa terjadi gangguan sistemik yang signifikan seperti depresi, kecemasan, meningkatnya risiko penyakit kronis dan risiko kecelakaan," ujarnya.

Baca juga: Infografis: Seberapa Bising Sih Suara di Sekitar Kita?

Sebelumnya dr Damayanti Soetjipto, SpTHT-KL(K) mengatakan ketulian karena bising memang bisa terjadi, terutama akibat paparan suara bising dengan desibel lebih dari 80 dB secara terus-menerus.

"Misalnya karena penggunaan headset atau earphone untuk dengarkan musik, tapi terbawa tidur dengan volume yang kencang. Lama-lama nanti rambut-rambut halus yang ada di dalam telinga bisa rontok sehingga tidak bisa menghantarkan bunyi dan suara sama sekali," tutur Ketua Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) itu kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Perlu dipahami bahwa ketulian akibat bising terjadi secara bertahap. Sebagian besar pasien tidak menyadari kemampuan mendengarnya berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya hilang sama sekali karena tidak ditangani.(lll/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close