Kamis, 14 Mar 2019 14:02 WIB

Masih Belum Populer, Ternyata CPAD Lebih Efisien Dibanding Cuci Darah

Widiya Wiyanti - detikHealth
Alat hemodialisis untuk pasien gagal ginjal. Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth Alat hemodialisis untuk pasien gagal ginjal. Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth
Jakarta - Penyakit gagal ginjal merupakan penyakit yang cukup membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya. Ada tiga pengobatan yang kerap dilakukan, yaitu hemodialisis (HD) atau cuci darah, Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), dan transplantasi ginjal.

Pada stadium awal, pasien gagal ginjal biasanya menjalani pengobatan hemodialisis atau CAPD, sementara pada stadium akhir dilakukan transplantasi.

Berdasarkan biaya, Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan Budi Mohamad Arief mengatakan bahwa CAPD lebih efisien dibandingkan dengan cuci darah karena bisa dilakukan di rumah.

"Misal hemodialisis setiap bulan 4 kali tarifnya 700 ribu sampai 1 juta, coba ambil 900 ribu per kali dikali 8 kali, berarti 7,2 juta harus kita (BPJS Kesehatan) membayar 7,2 juta. Tapi pasien harus datang ke tempat center HD, keluar juga biaya buat makan. Kalau CAPD tarifnya 7,5 juta, kalau orang diedukasi dan bisa dilakukan di rumah," ujar Budi saat Press Conference World Kidney Day 2019 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2019).



Selain efisien dalam pembiayaan, CAPD juga memiliki beberapa kelebihan. Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB Pernefri), dr Aida Lydia, PhD, SpPP-KGH menyebutkan bahwa pasien bisa melakukan pengobatan secara mandiri di rumah.

Namun dr Aida mengatakan hingga kini baru dua persen dari total pasien gagal ginjal yang menjalani pengobatan dengan CAPD ini. Pengobatan dengan cara ini dirasa belum populer di kalangan masyarakat.

"Kenapa kecil? Mungkin ada beberapa kendala, pelayanan CAPD musti memiliki beberapa sarana prasarana, dari SDM perawat CAPD yang dedicated belum banyak, terutama yang di daerah terpencil," jelasnya.

"Kedua pasien CAPD ini mandiri dalam arti kegiatan mereka lakukan mengganti cairan CAPD sebanyak 2 liter cairan ke dalam membran perut atau membran filtrasi, pasien harus mengganti cairan itu empat kali sehari harus dilatih dengan cukup. Kendala lain adalah dari segi distribusi cairan terutama di daerah terpencil, cairan dikirim ke rumah pasien, sehari empat kali, sebulan berapa?" lanjut dr Aida.

CAPD merupakan metode di mana sebuah kateter dipasang di dalam perut, khususnya ke dalam rongga peritoneum. Pemasangan ini dilakukan melalui tindakan operasi. Setelah kateter tersebut terpasang, digunakan cairan dialisat untuk membilas rongga peritoneum tempat kateter berada. Kateter tersebut berfungsi sebagai sarana cuci darah yang berlangsung sepanjang hari, seperti dikutip dari Mayo Clinic.




(wdw/up)