Senin, 18 Mar 2019 16:23 WIB

Soal Sedekah Putih, Kapan Susu Tambahan Diberikan?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Sandiaga Uno dalam debat cawapres menyinggung sedekah putih yang identik dengan pemberian susu tambahan (Foto: Grandyos Zafna) Sandiaga Uno dalam debat cawapres menyinggung sedekah putih yang identik dengan pemberian susu tambahan (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Program Sedekah Putih yang dinyatakan Sandiaga Uno dalam Debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) menekankan pada pemberian susu. Asupan ini dinilai mampu mengatasi masalah kecukupan gizi yang mengakibatkan stunting. Namun susu tambahan seharusnya tak menggantikan peran Air Susu Ibu (ASI).

Dokter spesialis anak dan konselor laktasi dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC mengatakan, susu tambahan hanya bisa diberikan dalam kondisi tertentu. Hal ini tercantung dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2012 pasal 7 tentang Pemberian ASI Eksklusif.

"Aturan menyaratkan adanya indikasi medis hingga anak harus mendapat susu tambahan. Indikasi medis tentunya harus diberikan dengan pendampingan dokter. Bila tidak ada maka anak harus mendapat ASI," kata dr Wiyarni pada detikHealth, Senin (18/3/2019).



Indikasi medis ditentukan dokter sesuai standar profesi, pelayanan, dan prosedur operasional. Selain indikasi medis, susu tambahan juga bisa diberikan dengan dua kondisi lain. Kondisi tersebut adalah ketiadaan ibu atau terpisah dari bayinya. Dengan adanya aturan ini, seorang ibu tidak boleh dihalangi atau dipaksa tidak memberikan ASI untuk anaknya.

Sebelumnya, dr Wiyarni mengatakan anak sebetulnya tidak perlu susu tambahan. Namun anak harus mendapat ASI dan Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya. Sebelumnya orangtua harus mendapat edukasi terkait kecukupan ASI dan MP ASI untuk anaknya.

(up/up)