Selasa, 26 Mar 2019 16:59 WIB

Hoax or Not

Dry Cleaning Sebabkan Kanker Darah? Ahli Kimia Beberkan Faktanya

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi dry cleaning. Foto: thinkstcok Ilustrasi dry cleaning. Foto: thinkstcok
Jakarta - Metode dry cleaning belakangan ini disangkutpautkan dengan penyakit kanker darah yang diidap Ani Yudhoyono. Menurut sebuah pesan yang beredar di aplikasi pesan instan, senyawa kimia berbahaya yang dipakai dalam dry cleaning bisa memicu kanker.

Senyawa kimia tersebut bernama tetrakloroetilen, yang merupakan zat pelarut yang umum digunakan untuk membersihkan kotoran. Tak hanya dry cleaning, senyawa ini juga digunakan untuk membersihkan minyak, kotoran, lilin tanpa berdampak pada kain atau bahan besi, bahan anti-air, pembersih cat, tinta printer, lem, perekat, pemoles dan pelumas atau membuat bahan kimia lainnya.

"Drycleaning ini adalah metoda pencucian dengan menggunakan pelarut organik. Ada berbagai jenis pelarut organik yang digunakan sebagai pelarut yang berfungsi menghilangkan kotoran. Salah satunya adalah tetrakloroetilena ini," kata Dr Eng Agus Haryono dari Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat dihubungi detikHealth, Selasa (26/3/2019).


Agus menjelaskan bahwa tetrakloroetilen sudah tergolong sebagai senyawa karsinogenik (penyebab atau pemicu kanker) klas 2A oleh International Agency for Researc on Cancer (IARC), badan yang tergabung dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Artinya sudah terbukti menyebabkan kanker pada binatang uji, tetapi belum banyak bukti pada manusia. Senyawa ini tidak hanya bisa menyebabkan kanker darah, namun juga bisa menyebabkan penyakit kanker ginjal, liver, pankreas, kanker serviks dan lainnya," lanjut Agus.

Ia mengatakan belum ada bukti secara langsung bahwa bahan kimia ini menimbulkan kasus penyakit kanker di Indonesia. Hal ini disebabkan belum ada yang meneliti secara langsung.


Lalu apakah kita harus menghindari dry cleaning untuk mencegah kemungkinan risiko kanker?

Agus menjawab masih kurang tahu apakah dry cleaning di Indonesia masih menggunakan bahan kimia tersebut. Ada banyak jenis pelarut organik yang lebih aman bagi kesehatan. Namun jika masih tetap menggunakan tetrakloroetilen, maka proses dry cleaning-nya harus betul-betul tertutup agar uapnya tidak terhirup keluar.

Ia juga menyarankan pada pengusaha dry cleaning untuk tidak menggunakan bahan kimia tetrakloroetilen. Lebih baik menggunakan bahan kimia pengganti yang lebih aman. Dan disarankan bagi para pekerja dry cleaning untuk menghindari kontak langsung, misal dengan menggunakan sarung tangan lateks.

"Saran kepada masyarakat, sebaiknya baju atau kain yang di-dry cleaning, diangin-anginkan dahulu sebelum digunakan (untuk menghindari paparan, jika masih ada bahan kimia tersisa)," pungkas Agus.



(frp/up)
News Feed