Jumat, 29 Mar 2019 13:58 WIB

Dear Para Ibu, Ini Saran Psikolog Soal Tahan Emosi Menghadapi Anak Bandel

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Ilustrasi memarahi anak. Foto: iStock Ilustrasi memarahi anak. Foto: iStock
Jakarta - Seorang ibu yang viral tertangkap kamera karena mendorong anaknya keluar dari mobil menjadi sorotan. Ia mengaku emosi karena sang anak menolak berangkat les, lalu bagaimana cara menahan emosi yang benar saat anak-anak mulai 'bandel'?

"Masya Allah ya, ibu-ibu punya tugas yang luar biasa. Ibu adalah leader di rumah, ibu itu jantungnya rumah. Ibu itu adalah cahaya keluarga. Memang kita sendiri harus bisa menjaga kesehatan mental diri kita," kata Fajriari Maesyaroh, psikolog dari Yayasan Sahabatku saat berbincang dengan detikHealth, Jumat (29/3/2019).

Buat para ibu-ibu, menahan emosi pada anak bukanlah hal yang mustahil. Fajri, sapaannya, mengatakan saat menghadapi anak yang 'bandel', ada beberapa hal yang harus diingat oleh para ibu, yakni mengenali emosi, time out, dan rileks sebelum kembali menghadapi anak.

"Jadi kalau kita punya emosi negatif, entah itu marah, sedih, kecewa, takut, terima saja dulu. Terima, sadari, resapi. Beri label 'Oh sekarang saya sedang marah'," lanjut Fajri.

Saat kita mampu mengenali emosi kita sendiri, akan ada jeda di mana kita menyadari hal tersebut. Selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memikirkan cara bagaimana menyalurkan emosi tersebut agar tidak melukai, baik fisik maupun batin dari anak-anak.


Fajri menjelaskan langkah selanjutnya, yakni time out yang berarti kita tetap berusaha asertif kepada orang lain di sekitar kita, baik itu anak, suami, tetangga, sahabat, teman. Saat jeda itu kita coba lakukan kegiatan yang membuat rileks, bisa bergerak pindah tempat, mandi dengan air hangat, atau tiduran sejenak.

"Supaya ketika otot kita rileks, maka saraf akan mengirim sinyal ke otak bahwa 'Oh sudah rileks nih'. Maka emosi juga akan reda. Jadi coba untuk relaksasi dengan berpikir, menyebut nama Tuhan, latihan napas, atau teknik-teknik relaksasi lainnya," imbuh dia.

Jika semua sudah mampu dilakukan dengan benar dan siap menghadapi anak tanpa terpancing, barulah para orang tua bisa maju. Saat emosi kita sedang berlebih dan tidak stabil, maka bisa dijamin kata-kata atau tindakan yang keluar tidak akan lagi rasional dan berdampak tak hanya pada orang lain tapi juga diri sendiri.

"Karena setelah kita marah marah besar, kita ngamuk, biasanya kita juga akan menyesal kan. Karena memang mungkin pancingan atau dorongan itu lah yang harus kita pause dulu. Setelah itu sudah akan jauh lebih logis dan jauh lebih mengena pada anak ketimbang kalau kita marah," tutup Fajri.

(frp/up)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya