Jumat, 29 Mar 2019 18:28 WIB

Ibu Kubur Bayi Hidup-hidup Diduga Depresi, Indikasi Baby Blues?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Baby blues kerap dialami ibu usai melahirkan (Foto: thinkstock)
Jakarta - Seorang ibu berinisial W (35) di Purwakarta, Jawa Barat tega mengubur hidup-hidup bayinya yang masih berusia 5 bulan. W diduga mengalami depresi sejak ia mengandung sang bayi 7 bulan.

"Depresi. Karena dulu pas kandungan tujuh bulan, dia diperiksa ke bidan. Katanya anak posisi kepalanya di atas, ada tulisan di buku kalau posisi seperti itu berbahaya. Jadi istri saya kepikiran terus. Enggak bisa tidur, satu malam itu tidurnya hanya dua jam," kata Solihin, yang merupakan suami W dan ayah si bayi di RSUD Bayu Asih dikutip dari detikcom.



Dikutip dari Web MD, dunia medis menyebut depresi usai melahirkan sebagai postpartum depression (PPD) atau baby blues syndrome. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang merupakan petunjuk diagnosa gangguan mental, PPD adalah depresi mayor yang menujukkan serangan 4 minggu setelah melahirkan bayi.

Gejala PPD sama dengan yang terjadi pada ibu seusai melahirkan bayi. Tanda ini adalah sulit tidur, perubahan selera makan, merasa sangat lelah, penurunan libido, dan mood yang sering berubah. Kondisi ini biasanya disertai gejala depresi lain yang tidak normal selepas kelahiran anak. Tanda ini adalah mood yang terus turun (depressed), kehilangan rasa senang, merasa tidak berharga, kehilangan harapan, dan merasa tak ada yang bisa menolong. Tanda khas lain adalah terpikir ingin mati, bunuh diri, atau menyakiti orang lain.

PPD terkait dengan perubahan kimia, sosial, dan fisiologis para ibu selepas kelahiran. Hal ini menjelaskan kisaran perubahan fisik dan emosi yang dialami ibu. Perubahan kimia ini termasuk penurunan hormon usai melahirkan anak. PPD bisa disembuhkan dengan terapi medis dan konseling dengan tenaga ahli yang kompeten.

(up/up)