Kamis, 04 Apr 2019 13:28 WIB

Atta Halilintar Jadi 'Anak Ke-4' Jokowi, Pahami Hal Ini Sebelum Adopsi Anak

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Atta Halilintar gerebek Istana Negara. Foto: Instagram Atta Halilintar Atta Halilintar gerebek Istana Negara. Foto: Instagram Atta Halilintar
Jakarta - Atta Halilintar 'diangkat' jadi anak ke-4 presiden Joko Widodo. Melalui YouTube Channel miliknya saat menggerebek Istana Negara, Atta Halilintar tampak disambut hangat oleh Jokowi dan diajak berkeliling ruangan di istana. Anak sulung dari keluarga Gen Halilintar itu pun diajak ke ruangan yang bersifat keluarga. Pernyataan Jokowi tersebut lantas membuat Atta merasa telah menjadi bagian dari keluarganya.

"Berarti kalau saya duduk sudah kekeluargaan ya, Pak? Weis saya sudah keluarga bapak. Anak ke berapa saya, Pak?" kata Atta.

"Kalau mau anak keempat," jawab Jokowi.

"Oh saya anak keempat Jokowi. Salam dulu sama papa baru," sahut Atta.

Jokowi dan Atta mungkin hanya sekadar bercanda. Terlepas dari masalah tersebut, soal adopsi anak tidak bisa dianggap sepele. Dikutip dari Woman's Day, adopsi anak adalah perbuatan yang mulia namun membutuhkan tanggung jawab besar. Sebab, kita tak hanya memperhatikan dari kesiapan materi saja namun dari segi emosional juga harus tercukupi.

"Adopsi adalah komitmen seumur hidup untuk orang lain," ujar Laura Lamminen, PhD, ketua psikolog di Rees-Jones Center untuk Foster Care Excellence di Children's Health, Dallas. Berikut ini hal yang harus kamu pahami sebelum mengadopsi anak.


1. Tanyakan tiga pertanyaan penting pada diri sendiri

"Orang tua harus meluangkan waktu untuk memikirkan proses adopsi dan dampaknya pada keluarga dan kehidupan anak," kata Lamminen.

Tanyakan pada diri sendiri tiga pertanyaan sulit sebelum melanjutkan: 1) mengapa saya ingin mengadopsi? 2) Bagaimana adopsi anak akan berdampak pada orang-orang dalam keluarga saya? 3) Apakah lingkungan rumah saya stabil dan secara emosional dapat mendukung anak?

2. Adopsi bukan berarti kamu 'menyelamatkan' seorang anak

Mark Molzen, juru bicara perusahaan Fortune 150 di Phoenix, mengatakan perbedaan antara pikiran 'menyelamatkan' seorang anak versus mengadopsi anak adalah penting karena itu berkaitan dengan masalah rasa terima kasih.

Karena kamu melakukan banyak hal untuk anak sebagai orang tua, mungkin mengharapkan rasa terima kasih itu akan tetap ada. Akan tetapi kamu tidak boleh membuat anak adopsi merasa seolah-olah mereka berutang kepadamu karena 'menyelamatkan' mereka dari keadaan sebelumnya.


3. Harus penuh kesabaran

"Proses adopsi panjang dan rumit dan itu tergantung pada banyak faktor, termasuk apakah kamu mengadopsi di dalam negeri atau internasional," kata Juli Fraga, PsyD, seorang psikolog yang berbasis di San Francisco.

"Itu membutuhkan banyak waktu dan kesabaran serta dukungan emosional dan psikologis."

4. Konseling juga dibutuhkan

"Terhubung dengan dan bertemu keluarga lain yang telah menavigasi proses adopsi dapat memberikan wawasan tambahan ke dalam proses dan membantu menormalkan pengalaman yang calon keluarga adopsi temui," tutur Lamminen.

Ia menambahkan bahwa terapi keluarga dapat membantu memperkuat keterikatan dan hubungan dalam lingkungan keluarga. Terapi mungkin juga bermanfaat jika anak adopsi mengalami masalah yang mempengaruhi fungsi sehari-hari, atau orang tua adopsi mengalami kesulitan menyesuaikan diri untuk memiliki anak adopsi di rumah.

Fraga merekomendasikan bahwa siapa pun yang mempertimbangkan adopsi mendapatkan dukungan pra-adopsi melalui terapi psikologis atau kelompok pendukung.

"Semakin sadar akan prosesmu sendiri dan perasaan yang diantisipasi tentang proses itu, semakin kamu siap secara emosional untuk menjadi orangtua anak masa depanmu," tandasnya.



Tonton juga video Ahsiap! Kaesang Sebut Atta Halilintar Sebagai Adiknya:

[Gambas:Video 20detik]


Atta Halilintar Jadi Anak Ke-4 Jokowi, Pahami Hal Ini Sebelum Adopsi Anak
(ask/up)