Kamis, 04 Apr 2019 18:55 WIB

Mahalnya Pengobatan Hemofilia, Tak Semua Ditanggung BPJS Kesehatan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Obat-obatan hemofilia tidak murah (Foto: ilustrasi/thinkstock) Obat-obatan hemofilia tidak murah (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta - Tantangan yang dihadapi oleh penyandang hemofilia adalah beban pembiayaan. Obat faktor pembekuan darah untuk hemofilia harganya sangat mahal yang diberikan kepada pasien seumur hidup.

Saat ini pasien hemofilia telah mendapatkan akses pelayanan kesehatan dari program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Meski demikian, tidak semua biaya pengobatan hemofilia ditanggung oleh negara.

Wakil Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), Dr dr Novie Amelia Chozie, SpA(K), menuturkan berdasarkan pola pembiayaan BPJS sekarang, penentuan tarif berdasarkan diagnosis. Diagnosis hemofilia masuk dalam grup kelainan pendarahan jadi tarifnya berbeda di setiap rumah sakit

"Kalau di RSCM, tarifnya sekitar Rp 11 juta untuk rawat inap, kalau rawat jalan nggak ada tarifnya hanya dikasi top up untuk obat. Obat itu juga berbeda tiap level. Kalau pasien hemofilia misalnya tipe B, satu vial itu 5-6 juta, kalau anak butuh satu vial sehari. Tapi kalau orangnya besar, butuh dua vial sehari padahal harus dikasi 2 hari," ujarnya kepada detikHealth, Kamis (4/3/2019).



"Jadi tarif BPJS yang hanya Rp 11 juta itu nggak cukup karena makin besar pasiennya maka kebutuhan obatnya juga makin banyak. Belum juga kalau ada penyulit seperti inhibitor. Itu luar biasa bebannya," tambahnya.

Inhibitor adalah antibodi yang dihasilkan oleh tubuh untuk melenyapkan benda asing. Mereka yang mengidap hemofilia biasanya membentuk sebuah 'tameng' yang menghalau obat untuk masuk sehingga faktor pembekuan darah menjadi kurang efektif.



Pasien hemofilia dengan gejala inhibitor harus memakai pemotong jalur atau bypassing agent dan memakai obat yang harganya 11 juta/vial serta diberikan per tiga jam sekali. Jadi untuk pasien inhibitor dengan pendarahan berat biayanya bisa mencapai miliyaran rupiah.

"Memang hemofilia ini di negara maju pun menjadi beban ekonomi yang cukup besar. Tapi siapa sih yang mau sakit hemofilia? Ini tanggung jawab kita bersama untuk mengatasinya," jelasnya.

(kna/up)
News Feed