Rabu, 10 Apr 2019 18:12 WIB

Pesan Sonia Wibisono untuk Ortu Anak Down Syndrome: Jangan Putus Asa!

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Sonia Wibisono bersama sang anak, Rainer. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth
Jakarta - Masih banyak beredarnya stigma-stigma negatif menyertai penyandang down syndrome cukup meresahkan. Terutama bagi dokter cantik Sonia Wibisono, di mana seharusnya mereka berhak mendapat pelatihan dan hidup layaknya warga Indonesia lainnya.

Ditemui di sela-sela acara Baking Class bersama Anak Down Syndrome di Yayasan Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI) Sunter, Jakarta Utara, wanita berusia 41 tahun ini menyampaikan pesan khusus untuk para orang tua penyandang down syndrome jangan berputus asa.

"Orang tua jangan putus asa, harus terus berjuang, harus terus menyayangi hadiah dari Tuhan. Harus mencari-cari apa yang mereka suka, kemudian diarahkan untuk bisa menghasilkan dan berkarya. Yang penting soalnya kita di dunia ini kan untuk berkarya ya untuk orang lain, untuk sesama, kita hidup di dunia ini kita dikasih talenta nih sama Tuhan, ya talentanya anaknya," kata Sonia, Rabu (10/4/2019).

Down Syndrome adalah kelainan fisik dan mental pada bayi atau anak yang disebabkan faktor genetik atau kelainan kromosom. Bayi yang dikandung memiliki kromosom 21, baik salinan penuh maupun sebagian. Walau anak down syndrome memiliki IQ yang kecil, akan tetapi mereka sangat mampu untuk dilatih untuk memiliki ketrampilan atau bakat yang maksimal.


Menurut dr Sonia, masih banyak orang tua yang tidak memiliki akses informasi soal down syndrome. Sehingga banyak yang tidak tahu harus ke mana untuk melatih sang anak. Kebanyakan berakhir di rumah saja, atau malah 'mengurung' anak mereka, bisa karena malu ataupun stigma.

"Karena orang tua kan ujung tombak ya untuk mendidik anak-anak, terutama ibu. sebenarnya perempuan itu harus cerdas, harus mencari informasi yang baik, harus kuat ya tentunya. Jangan dikucilkan, jangan dibodoh-bodohin, jangan dikurung gitu misalnya. Percaya pada mereka. Sehingga mereka nanti benar-benar jadi tidak bisa apa-apa, kan kasihan juga. Karena yang lain juga bisa, jadi harusnya mereka juga bisa,"

Ia berharap sosialisasi down syndrome makin digalakkan di kalangan masyarakat, misalnya dilakukan dalam skala kecil seperti seminar di RT. Beberapa waktu lalu Sonia bersama Yayasan Lions Club Indonesia mengadakan World Down Syndrome Day, dan menghadirkan Madeline Stuart sang model down syndrome pertama di dunia.

"Ingin mengatakan kepada Indonesia bahwa anak-anak ini bisa jadi juara. Jadi memang ingin menyuarakan juga untuk seluruh masyarakat bahwa anak-anak ini nih sebenarnya kalau dilatih bisa jadi juara dan mandiri," lanjutnya.

Ia juga mengajak anak ketiganya, Rainer Wardhana Hardjanto, ikut serta dalam kegiatan-kegiatan bertema down syndrome yang ia adakan. Bahkan pada acara tersebut, sang pelukis muda ini juga melelang hasil lukisannya untuk disumbangkan untuk membangun pusat pelatihan.

"Aku nggak takut, kurasa sampai sekarang aku nyaman banget ketemu sama mereka, karena mereka orang-orang yang baik dan sangat suportif. Mereka sangat ramah," pungkas Rainer.

(frp/up)