Rabu, 17 Apr 2019 16:52 WIB

Perhatikan Hal Ini Jika Leher Tegang Saat Tunggu Hasil Quick Count

Tia Reisha - detikHealth
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Leher tegang sering kali dianggap sebagai hal yang sepele karena bisa terjadi kapan saja, termasuk saat menunggu hasil hitung cepat atau quick count Pilpres 2019. Dilansir dari Spine Health, ada beberapa hal yang menyebabkan leher tegang.

Di antaranya tidur dengan posisi leher yang salah, jatuh atau cedera akibat olahraga, terlalu sering membungkuk dalam waktu lama, menggunakan ponsel di antara leher dan bahu saat menelepon, dan mengalami stres atau kecemasan yang berlebihan.

Menurut Medical Advisor Kalbe Nutritionals dr. Ervina Hasti W, tegang akibat stres biasanya muncul dengan gejala lainnya seperti nyeri di bagian belakang kepala, kanan dan kiri dahi, serta di belakang bola mata.

"Tegang di sekitar leher bisa terjadi karena mengalami stres. Hal ini disebut dengan sakit kepala tegang atau Tension Type Headache (TTH). Biasanya selain tegang pada leher juga akan merasakan nyeri dan tekanan di bagian belakang kepala, kanan dan kiri dahi, dan belakang bola mata," ujar dr. Ervina kepada detikHealth, Rabu (17/4/2019).


dr. Ervina mengatakan tubuh membaca stres sebagai suatu ancaman sehingga tubuh melepaskan sekelompok hormon stres seperti adrenalin, norepinefrin, dan kortisol dalam jumlah banyak sebagai cara untuk melindungi diri. Hormon-hormon tersebut bekerja untuk mematikan fungsi-fungsi tubuh yang sedang tidak diperlukan.

Di saat bersamaan, lanjutnya, hormon adrenalin dan kortisol menyebabkan peningkatan detak jantung dan pelebaran pembuluh darah untuk mengalirkan darah ke bagian-bagian tubuh yang berguna untuk merespons secara fisik seperti kaki dan tangan.

"Karena jantung memusatkan aliran darahnya ke bagian bawah tubuh, otak jadi tidak mendapatkan asupan darah beroksigen yang cukup. Akibatnya fungsi organ menurun. Inilah yang menjadi penyebab kenapa banyak orang mengalami leher tegang saat stres. Stres juga dapat menyebabkan ketegangan berlebihan pada otot yang berada di daerah kepala," lanjut dr. Ervina.


Selain menyebabkan leher tegang, ujar dr. Ervina, stres juga bisa memicu produksi kolesterol karena hormon adrenalin dan kortisol dilepas dalam jumlah yang lebih banyak. Semakin tinggi tingkat stres, semakin tinggi pula produksi kolesterol.

"Penelitian di University of Missouri Science and Technology menyimpulkan bahwa stres berlebihan bisa meningkatkan risiko terkena kolesterol tinggi. Saat tubuh mengalami stres, hormon adrenalin dan kortisol akan dilepas dalam jumlah yang lebih banyak, akibatnya memicu produksi kolesterol. Semakin tinggi tingkat stres, maka makin tinggi produksi kolesterol," sambung dr. Ervina.

Menurutnya, kolesterol dalam darah dapat menyebabkan penumpukan plak aterosklerosis pada dinding pembuluh darah hingga mengakibatkan terjadinya penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner dan stroke.

Agar kadar kolesterol tetap terjaga, dr. Ervina menyarankan untuk menerapkan 7 langkah TANGKAL kolesterol, yakni Teratur periksa kolesterol, Awasi asupan dan pola makan, Nikmati hidup tanpa rokok dan minuman beralkohol, Giat berolahraga, Kendalikan berat badan dan hindari stress, Awasi tekanan darah, serta Lengkapi dengan Nutrive Benecol dua kali sehari.

Nutrive Benecol adalah minuman teruji klinis yang mengandung Plant Stanol Ester (PSE) sehingga bisa membantu menurunkan kadar kolesterol hingga 7-10% jika dikonsumsi rutin 2 kali sehari selama 2-3 minggu. Nutrive Benecol juga dapat membantu mengurangi kolesterol dan risiko jantung koroner. (mul/ega)