Rabu, 17 Apr 2019 19:55 WIB

Pendamping 'Nyoblos' Pasien Gangguan Jiwa: Kita Netral!

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Pengidap ganguan jiwa menyalurkan hak pilih dengan bantuan para pendamping (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth) Pengidap ganguan jiwa menyalurkan hak pilih dengan bantuan para pendamping (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth)
Jakarta - Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) punya hak yang sama untuk memberikan suara mereka. Pertama kalinya, di panti sosial Budi Murni menyediakan TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang memudahkan penghuni panti untuk mencoblos.

Akan tetapi, karena pertama kalinya mencoblos di panti, beberapa ODGJ mengalami kesulitan untuk mencoblos. Tangan mereka gemetar, bahkan sampai kesulitan untuk membuka kertas suara. Ini pun membuat pengawas turun tangan untuk membantu.

"Awalnya kan tidak didampingi, kondisinya saja tidak kami dampingi bisa sampai 10 menit bahkan lebih makanya kita mengejar dengan kuantiti pemilih yang terlalu banyak, 200 lebih, kita juga sudah izin dan ada kesepakatan dengan panwas, saksi, kita juga nggak bisa asal dengan kondisi begini. Kalau normal, kita nggak perlu damping semenit dua menit selesai tapi ini kan banyak ya orangnya, juga dengan kondisi khusus," jelas Andhyka sebagai pengawas.


Kita kasih tahu tapi kita tidak ikut campur dalam pencoblosan, paling kita buka kertas. Itu salah satu yang bikin lama, buka kertas dan lipet kertasAndhyka - pendamping ODGJ

Sebagai pamsung, Andhyka hanya membantu ODGJ untuk membuka kertas kemudian memberitahu mana partai dan mana calon presiden. Setelahnya, semua bergantung dari pilihan peserta pemilu.

"Kita kasih tahu tapi kita tidak ikut campur dalam pencoblosan, paling kita buka kertas. Itu salah satu yang bikin lama, buka kertas dan lipet kertas... Nggak (diarahkan --red), kita netral," tegasnya.

Di tempat yang sama, Wawan Setiawan, dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengatakan bahwa pendampingan pada ODGJ yang mencoblos dilakukan setelah adanya perembukan. Apalagi melihat waktu yang terus bergulir dan jumlah pencoblos yang masih menumpuk.

"Kita semua sudah berembuk, kita semua sudah sepakat. Awalnya tadi kan ada yang nggak bisa megang kertas, gemeter, sama nggak bisa nyoblos, makanya kita rembuk. Panwas, saksi, semua, akhirnya disepakati dengan pendamping. Cuma pendamping itu netral, nggak boleh mengintimidasi, atau memilih salah satu. Tugasnya hanya membuka itu saja, selebihnya udah," jelas Wawan.

"Jadi kita nggak ambil keputusan sendiri-sendiri, nggak ada unsur apa-apa," pungkasnya.

(ask/up)
News Feed