Senin, 22 Apr 2019 06:38 WIB

Siapapun Pemenang Pemilu, Ekspresi Berlebih Bisa Ganggu Kesehatan Jiwa

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ekspresi berlebih bisa ganggu kesehatan jiwa. Foto: Ari Saputra Ekspresi berlebih bisa ganggu kesehatan jiwa. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum menyelesaikan rekapitulasi perolehan suara antara kubu 01 dan 02. Berbekal hasil penghitungan cepat (quick count) dan real count sementara, kedua kubu menyatakan diri sebagai pemenang dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Klaim tersebut makin dahsyat seiring ketidakpercayaan antar paslon peserta serta otoritas yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pemilu. Menurut psikolog forensik Reza Indragiri Amriel, penilaian lebay atau wajar kedua kubu dalam menyikapi quick count bersifat relatif bergantung pandangan masyarakat.

"Sebetulnya kedua kubu sama-sama mengingatkan menunggu real count dari KPU. Dengan fakta ini, pertarungan antar kubu sebetulnya bisa dibuat dengan lebih beradab. Misal dengan tidak mengekpresikan kemenangan hingga muncul kesan overdosis," kata kata Reza pada detikHealth, Minggu (21/9/2019).



Reza mengutip teori Alfred Adler yang membahas seputar psikologi individual. Teori menyatakan, ekspresi yang berlebihan justru mengindikasikan adanya perasaan tertekan yang luar biasa. Manusia sendiri cenderung bersikap kompensatoris, yaitu melakukan usaha aktif untuk mengatasi perasaan dan situasi inferior yang dialaminya.

Perasaan inferior yang diberi penegakan berlebihan akan menuntun pada gaya hidup tertentu untuk menutupi kekurangannya. Menurut Reza kecenderungan tersebut sebetulnya bisa dilihat dari kedua kubu peserta Pemilu 2019.

Melihat kecenderungan ini, kedua kubu sebaiknya bisa lebih tenang dalam menyikapi hasil quick count. Pertarungan yang beradab akan menurunkan risiko terjadinya perseteruan antar pendukung yang menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat umum.

(up/up)
News Feed