Kamis, 16 Mei 2019 04:50 WIB

Pakar UGM Beri Tips Cegah Cacar Monyet Saat Travelling ke Singapura

Usman Hadi - detikHealth
Saran profesor UGM soal pencegahan cacar monyet. Foto: internet Saran profesor UGM soal pencegahan cacar monyet. Foto: internet
Jakarta - Yogyakarta - Pemerintah Singapura mengonfirmasi temuan cacar monyet di negaranya. Temuan ini menghebohkan dan menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Bahkan sempat muncul kekhawatiran bila penyakit menular ini masuk ke Indonesia.

Koordinator of One Health Collaborating Center (OHCC) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Wayan T Artama DVM, memberikan sejumlah tips untuk mencegah penularan penyakit tersebut. Salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan.

"Terapkan hidup bersih dan sehat, mencuci tangan dengan sabun. Hindari kontak fisik langsung dengan monyet atau satwa liar yang menjadi reservoir virus seperti primata, rodent, squirrels, tupai dan sejenisnya," kata Wayan di Yogyakarta, Rabu (15/5/2019).

"Hindari kontak fisik langsung dengan penderita, atau material yang terkontaminasi seperti darah, cairan tubuh dan lain-lain. Hindari konsumsi bushmeat atau daging satwa liar yang tidak dimasak dengan baik," sambungnya.


Wayan juga memberikan tips kepada traveler yang baru pulang dari negara yang ditemukan wabah cacar monyet seperti Singapura. Jika si traveler mengalami demam, maka ia disarankan untuk segera melapor ke Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

"Kemudian petugas kesehatan yang berhubungan langsung dengan penderita atau yang suspect, maka harus berhati-hati dan menggunakan proteksi yang dianjurkan. (Secara umum) tidak perlu panik, tetapi perlu waspada dan kehati-hatian," terangnya.

Menurut Wayan, belum ada pengobatan khusus yang bisa diterapkan kepada penderita cacar monyet. Namun ia menegaskan bahwa wabah penyakit ini dapat dikontrol, caranya dengan menerapkan metode pencegahan dengan baik dan benar.

"Wabah atau outbreak dapat dikontrol. Namun sebenarnya orang yang sudah divaksinasi dengan vaksin smallpox masih dapat terlindungi karena ada kekebalan silang dan menurut laporan dapat timbul kekebalan sampai mencapai 85%," jelasnya.

"Tetapi yang paling penting adalah mengurangi risiko penularan ke human melalui cara-cara yang telah disebutkan dalam pencegahan tadi," pungkas Wayan.

(up/up)