Selasa, 21 Mei 2019 05:20 WIB

Ramai Teori Konspirasi yang Menyebut HIV-AIDS Tidak Nyata

Firdaus Anwar - detikHealth
Kesadaran terhadap HIV jadi modal penting untuk mengurangi angka penularan baru. (Foto: Reuters) Kesadaran terhadap HIV jadi modal penting untuk mengurangi angka penularan baru. (Foto: Reuters)
Jakarta - Pemerintah Rusia dilaporkan sedang menyiapkan aturan baru untuk membuat ilegal klaim yang menyebut kalau penyakit HIV-AIDS tidak nyata. Hal ini dilatarbelakangi maraknya teori konspirasi di antara pengguna media sosial.

Dilaporkan oleh Daily Mail, netizen Rusia belakangan ramai menyebarkan info hoaks bahwa HIV-AIDS penyakit palsu sengaja dibuat oleh perusahaan farmasi. Dampaknya sebagian yang percaya berhenti melakukan pengobatan dan orang-orang jadi lebih ceroboh tidak melindungi dirinya terhadap kondisi tersebut.

Ketua Federal Aids Centre Vadim Pokrovsky mendeskripsikan situasinya sebagai bencana nasional. Karena hoaks, angka infeksi HIV semakin bertambah dengan data terakhir menyebut ada lebih dari 100 ribu kasus baru di Rusia tahun lalu.


Oleh karena itu pemerintah berencana memberikan hukuman bagi para penyebar info hoaks HIV-AIDS. Rencananya siapa saja yang menyebut HIV-AIDS tidak nyata bisa didenda sekitar Rp 670 ribu.

"Masalahnya semakin jadi serius, dan dengan penyebaran HIV yang meningkat di Rusia hal ini membahayakan masyarakat," kata Kementerian Kesehatan Rusia seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (20/5/2019).

Beberapa pihak seperti Anton Krasovsky dari Independent AIDS Centre menyayangkan rencana pemerintah Rusia memberikan denda karena dianggap terlalu keras. Menurutnya lebih baik mendekati orang-orang yang menolak HIV-AIDS dengan memberikan pilihan bantuan.

"Banyak dari mereka yang hidup dengan HIV punya masalah psikologis. Mereka dalam penyangkalan. Tapi pemerintah selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan menghukum orang-orang," kata Anton.

(fds/up)