Rabu, 22 Mei 2019 17:49 WIB

Banyak Hoax Seputar Aksi 22 Mei, Saatnya 'Diet' Media Sosial

Rosmha Widiyani - detikHealth
Bentrok di Tanah Abang terkait aksi 22 Mei (Foto: Pradita Utama) Bentrok di Tanah Abang terkait aksi 22 Mei (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial menghadapi kerusuhan terkait aksi 22 Mei di Jakarta. Pembatasan mengakibatkan akses terhadap media sosial berjalan lebih lambat.

"Pembatasan bersifat sementara dan bertahap. Pembatasan dilakukan terhadap platform media sosial, fitur-fitur media sosial, tidak semuanya, dan messaging system," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dikutip dari detikcom.



Pembatasan akses mungkin bisa menjadi saat yang tepat untuk mencoba menerapkan diet media sosial. Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, diet media sosial bukannya menutup akses terhadap platform tersebut.

"Maksudnya diet adalah lebih selektif menyikapi konten dalam media sosial. Konten yang sekiranya bisa memancing reaksi negatif tak perlu dibuka. Konten berupa foto, video, dan tulisan tersebut juga tidak perlu disharing," kata dr Lahargo yang juga Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi.



Menurut dr Lahargo, hidup bisa menjadi lebih rileks dengan menyingkirkan stresor yang berasal dari media sosial. Misal konten seputar politik atau hoax yang belum terbukti kebenarannya.

Diet media sosial juga memberi peluang melakukan kegiatan selain politik dan isu lain yang menimbulkan tekanan. Misal kegiatan bersama keluarga, temam, atau melakukan hobi. Hal ini bisa membantu pikiran menjadi lebih positif dari yang semula cenderung negatif.

(up/up)
News Feed