Rabu, 22 Mei 2019 20:10 WIB

Rusuh 22 Mei dan Tanda-tanda Pribadi Tidak Dewasa Menurut Dokter Jiwa

Rosmha Widiyani - detikHealth
Kerusuhan 22 Mei seharusnya disikapi secara dewasa dengan tindakan responsif dan proaktif. Foto: Agung Pambudhy Kerusuhan 22 Mei seharusnya disikapi secara dewasa dengan tindakan responsif dan proaktif. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Bersikap dewasa kerap disarankan menghadapi situasi kerusuhan seperti terjadi dalam aksi 22 Mei. Sikap dewasa dianggap mampu mengendalikan emosi dan tak mudah terpancing provokasi. Dengan anggapan tersebut, sikap seperti apakah yang disebut dewasa?

Menurut Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, sikap dewasa bisa dilihat dari cara menanggapi kondisi terkini. Sikap dewasa cenderung tidak emosi dengan mengutamakan rasionalitas dan dampak atas suatu tindakan.

"Kita menyebutnya sebagai responsif dan proaktif yang hanya bisa diterapkan mereka yang dewasa. Kedewasaan ditentukan kondisi genetik, psikologi, dan sosial budaya sejak lahir hingga dewasa. Mereka yang dewasa mampu menyikapi dengan lebih baik dan menyingkirkan berbagai hal yang menimbulkan efek negatif," kata dr Lahargo pada detikHealth, Rabu (22/5/2019).


Tindakan responsif dipengaruhi bagian otak prefrontal cortex yang menentukan cara berpikir dan bertindak rasional. Cara berpikir yang baik memungkinkan seseorang berpikir ulang sebelum terpengaruh atau menyebarkan unggahan gambar, video, tulisan, atau konten lain yang bernada negatif.

Sikap proaktif ditunjukkan dengan mempersiapkan diri untuk hal yang bersifat positif. Misal memilih tidak terlalu banyak melihat media sosial jika kontennya dirasa memancing reaksi negatif. Proaktif juga ditunjukkan dengan mengajak lingkungan sekitar melakukan berbagai kegiatan yang memberi lebih banyak manfaat.

Responsif dan proaktif bertentangan dengan sikap reaktif yang lebih dipengaruhi emosi. Sikap reaktif merupakan hasil kerja sistem limbik dicontohkan dengan langsung share konten tanpa pertimbangan terlebih dulu serta mudah terpancing hoax. Reaktif biasanya berujung pada hal negatif misal menimbulkan kerusuhan.

"Momen ini sebetulnya bisa jadi pelajaran terkait kedewasaan masyarakat kita. Bila masih banyak yang mudah terprovokasi mungkin kita harus mengevaluasi pendidikan, pola asuh, dan sistem lain yang mendukung pendewasaan dan perkembangan karakter masyarakat menghadapi situasi rusuh di masa mendatang," kata dr Lahargo.

(up/up)