Sabtu, 25 Mei 2019 17:05 WIB

Masih Soal Hoax 22 Mei, Kenali 5 Jenis Pikiran Negatif

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi wanita sedang melihat informasi lewat internet yang bisa menjadi sumber pikiran negatif. Foto: iStock Ilustrasi wanita sedang melihat informasi lewat internet yang bisa menjadi sumber pikiran negatif. Foto: iStock
Jakarta - Aksi 22 Mei dan sehari sebelumnya menyisakan derasnya aliran informasi yang belum tentu semuanya benar alias hoax. Di antaranya hoax soal anggota polisi dari China dan meninggalnya Margaretha Nainggolan. Informasi yang belum disaring berisiko menjebak orang dengan mudahnya berpikir negatif.

"Ilmu psikologi menyebutnya sebagai distorsi kognitif yang lebih didominasi penggunaan emosi di bagian amygdala otak. Bisa juga disebut pikiran negatif yang tidak pernah menghasilkan kehidupan positif. Karena itu lebih baik alihkan pikiran ke arah positif dengan ibadah atau kegiatan yang menyenangkan," kata psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ dari RS Jiwa Marzoeki Mahdi, Bogor.

Distorsi negatif adalah cara berpikir yang tidak rasional, muncul spontan, dan diulang-ulang. Pengulangan menghasilkan ruminasi yang menganggu fungsi otak ditandai munculnya stres dan gangguan kejiwaan. Contoh gangguan kejiwaan adalah cemas atau ansietas dan depresi.
Berikut 5 jenis pikiran negatif yang kehadirannya harus diwaspadai sebelum mengganggu fungsi otak.

1. Over generalization

Menurut dr Lahargo, cara berpikir ini menyamakan semua peristiwa dengan suatu kejadian spesifik. Misal, menganggap semua pria tidak baik karena pengalaman yang kurang menyenangkan sebelumnya.

2. All or nothing thinking

Cara berpikir segalanya atau tidak sama sekali ini menunjukkan perfeksionis berlebihan. Cara ini mengakibatkan pelaku selalu ingin sempurna tanpa menoleransi sedikit kesalahan. Contohnya adalah menganggap hidup sudah gagal karena tidak berhasil mendapatkan nilai sempurna.


3. Mental Filter

Dalam cara berpikir ini, sisi negatif selalu mendominasi meski banyak aspek positif yang bisa dipikirkan. Dokter Lahargo mencontohkan kecenderungan memikirkan 13 dari 100 soal yang salah jawab dalam suatu ujian. Akibatnya pelaku terlihat meratapi dan menyalahkan diri, meski masih ada 87 soal lain yang betul.

4. Should

Cara berpikir seperti ini membuat pelaku tidak nyaman, sedih, kecewa, dan marah karena merasa seseorang harusnya melakukan seperti yang dipikirkan pelaku. Perasaan frustasi disebabkan adanya pikiran harus, harus, dan seharusnya yang dialamatkan pada orang lain. Misal, seharusnya saya yang menang atau harusnya dia lebih perhatian.

5. Jump to the Conclusion

Metode ini menyebabkan pelakunya loncat, yaitu seolah tahu hal yang akan terjadi meski belum dijalani. Dokter Lahargo mencontohkan anggapan benci karena tidak disapa, padahal orang yang dimaksud sedang buru-buru melakukan sesuatu. Hal serupa terjadi pada anggapan adanya kecurangan atau praktik tak sesuai aturan yang mengakibatkan kegagalan.



Tonton video Cerita Ismail yang Warungnya Ludes Dibakar Massa Aksi 22 Mei:

[Gambas:Video 20detik]


Masih Soal Hoax 22 Mei, Kenali 5 Jenis Pikiran Negatif
(up/up)
News Feed