Selasa, 28 Mei 2019 16:02 WIB

Sampai Ada Dokter Ditangkap Polisi, Kenapa Orang Pintar Ikut Sebar Hoax?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Polda Jabar ciduk dokter yang diduga unggah hoaks aksi 22 Mei. Foto: Dony Indra Ramadhan Polda Jabar ciduk dokter yang diduga unggah hoaks aksi 22 Mei. Foto: Dony Indra Ramadhan
Jakarta - Seorang dokter berinisial DS ditangkap polisi karena tuduhan menyebar hoaks pelajar tewas ditembak polisi saat aksi 22 Mei di Jakarta. DS mengunggah sebuah keterangan melalui akun Facebook-nya pada 26 Mei 2019 lalu.

"Itu untuk bahan diskusi," ucap DS di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Selasa (28/5/2019), seperti dikutip detikNews.


Hoax atau hoaks memang ramai beredar, apalagi situasi politik yang sedang panas seperti ini. Karenanya, kita harus pandai dalam memilah informasi yang kita terima. Terlepas dari siapapun kita atau pun seberapa tinggi pendidikan yang kita miliki.

Diberitakan detikHealth sebelumnya, Dr Roby Muhamad, Ilmuan Sosial dari Universitas Indonesia, menuturkan bahwa orang pintar ikut percaya hoaks dikarenakan orang yang berpendidikan lebih kreatif dalam mencari justifikasi atau pembenaran dari sebuah kesimpulan yang ditawarkan.


"Bukan mereka tidak melihat datanya, mereka melihat data itu muncul dan ada ketidakpercayaan," ujar Dr Roby.

"Orang itu pada dasarnya ingin rasional, tapi pada kenyataannya tidak ada satu orang pun yang melakukannya secara sempurna. Ketika kita memilih itu, itu tidak semata-semata sesuai pilihan yang rasional."

Terkadang juga, banyak orang yang sudah merasa punya pendidikan tinggi termakan hoaks karena mereka lupa bahwa bisa jadi ilmu yang ia miliki untuk persoalan yang dibicarakan ini sama saja dengan orang awam. Sehingga, orang dengan pendidikan tinggi cenderung lebih percaya diri dengan apa yang ia yakini.

(ask/up)
News Feed