Selasa, 28 Mei 2019 17:52 WIB

Dokter Ikut Sebar Hoaks, Ini Alasannya Orang Suka Asal Forward Pesan

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Bikin geger, seorang dokter berinisial DS ditangkap polisi karena tuduhan hoaks. Foto: Dony Indra Ramadhan Bikin geger, seorang dokter berinisial DS ditangkap polisi karena tuduhan hoaks. Foto: Dony Indra Ramadhan
Jakarta - Bikin geger, seorang dokter berinisial DS ditangkap polisi karena tuduhan menyebar hoaks pelajar tewas ditembak polisi saat aksi 22 Mei di Jakarta. Ia mengunggahnya lewat akun Facebook-nya dan mengaku menjadikannya sebagai bahan diskusi saja.

"Itu untuk bahan diskusi," ucap DS di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Selasa (28/5/2019), seperti dikutip detikNews.


Tahu tidak, ketika mendapatkan suatu pesan, ada bagian otak yang paling berperan dalam menentukan apakah pesan tersebut dapat kita percaya atau tidak. Bagian tersebut disebut dengan amygdala, yakni bagian otak yang berperan dalam mengolah rasa cemas, rasa takut, dan emosi lainnya.

"Terutama ketakutan. Jadi takut dikontrol sangat besar oleh amygdala. Semua informasi disaring dulu dari amygdala karena itu bagian otak primitif, dari semua makhluk hidup termasuk hewan," kata Dr Berry Juliandi, Msi, Sekretaris Jendral Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) beberapa waktu lalu.

Menurut Dr Berry, ada sensasi-sensasi yang sengaja dicari oleh orang yang melakukan hal tersebut, antara lain ingin mendapatkan pujian tentang informasi yang ia bagikan atau karena ia mendapatkan kesan 'tahu duluan'.


"Orang itu kalau dapat informasi atau fakta baru, terlepas itu hoaks atau bukan dia tidak terlalu mikir itu apa. Dia ingin jadi orang yang pertama yang menyebar itu supaya terlihat pintar, menaikkan reputasi dia, dia yang tahu duluan," jelas Dr Berry.

Dengan membagikan informasi tersebut, ini akan membangkitkan neurotransmitter di otak. Hormon-hormon yang menghasilkan perasaan senang membuat seseorang pun ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi.

"Kan kadang suka dijawab tuh di WA Group 'terima kasih sharingnya,'. Oksitosin (terproduksi --red), hormon yang membuat kita senang. Jadi itu ada reward. Akibatnya apa? Akhirnya kita terus-terus lagi melakukan itu," tandasnya.

(ask/up)