Selasa, 04 Jun 2019 04:38 WIB

5 Alasan untuk Tak Ikut Sebarkan Foto Pelaku Bom di Kartasura

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Beredarnya konten sadis bisa berdampak pada kejiwaan (Foto: iStock) Beredarnya konten sadis bisa berdampak pada kejiwaan (Foto: iStock)
Jakarta - Ledakan terjadi di Pos Pantau Polres Sukoharjo di Kecamatan Kartasura, Senin (3/6/2019) malam. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengimbau untuk tidak menyebarkan foto maupun video pelaku peledakan.

"Beberapa informasi sudah masuk. Bahkan masyarakat telah memiliki gambar dan video. Barangkali lebih baik masyarakat tidak perlu me-share dulu agar masyarakat tidak mendapatkan gambar-gambar atau visual mengerikan," kata Ganjar.



Tak cuma dalam kasus ledakan di Kartasura, imbauan untuk tidak menyebar visual sadis selalu muncul dalam setiap peristiwa yang memakan korban. Aksi terorisme, kerusuhan, kecelakaan, hingga bencana alam, kerap diwarnai dengan broadcast kondisi korban maupun pelaku.

Beberapa alasan untuk mematuhi imbauan tersebut antara lain sebagai berikut, dirangkum detikHealth dari sejumlah wawancara terdahulu.

1. Tujuan teror tercapai
Saat terjadi serangan bom di sejumlah titik di Surabaya pada Mei 2018, korban jiwa berjatuhan. Foto dan video korban maupun pelaku bom bunuh diri beredar. Psikolog Rahajeng Ika menyinggung kemungkinan hal itu dilihat sebagai 'keberhasilan' pelaku untuk menakut-nakuti, bahkan mengadu domba.

"Akan tercapai andaikan kita terprovokasi menyebarkan gambar. Ingat, tidak semua orang bereaksi sama dengan kejadian ini," kata Ika.



2. Trauma bagi korban dan keluarganya
Menyebar foto maupun video terkait kondisi korban jiwa juga bisa berdampak pada keluarga yang ditinggalkan. Demikian pula bagi survivor atau penyintas dalam satu peristiwa tragis.

"Orang yang pernah punya trauma serupa juga bisa diingatkan akan traumanya. Kan jadinya retraumatized," kata Ika.



3. Risiko gangguan mental
Bagi yang tidak terlibat langsung dalam peristiwa tersebut, beredarnya konten kekerasan juga bisa berdampak bagi kesehatan jiwa. Bagaimanapun, konten kekerasan bisa berpengaruh pada pikiran dan perasaan.

"Bisa kita kondisinya menjadi berubah dan mengalami gangguan kecemasan serta depresi. Itu bisa," kata dr Andri, SpKJ, dokter jiwa dari RS Omni Alam Sutra, mengomentari beredarnya video penganiayaan suporter Persija oleh oknum Bobotoh Persib Bandung pada September 2018.



4. Bahaya bagi anak kecil
Konten kekerasan dan sadisme bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak, terutama dalam aspek kejiwaan. Psikolog klinis Linda Setiawati dari Personal Growth menyinggung hal ini saat mengomentari banyaknya video terkait tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada Oktober 2018, yang saat itu sebagian di antaranya adalah hoax.

"Kita tahu pengguna sosial media di Indonesia itu banyak bukan cuma dewasa. Bisa jadi ada anak kecil atau remaja yang belum siap dengan itu, jadi memang harus bijak sih kalau mau share," kata Lina.



5. Takut itu normal
Dalam peristiwa ledakan bom di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat awal 2016, tagar #KamiTidakTakut sempat memuncaki trending topic di media sosial. Narasi ini muncul bersamaan dengan viralnya berbagai foto dan video yang menggambarkan suasana mencekam di lokasi kejadian saat itu.

Psikolog Liza Marielly Djaprie dari Sanatorium Dharmawangsa menyebut rasa takut dalam situasi semacam itu adalah hal yang normal. Memendam emosi, baik takut maupun marah, menurutnya justru berpotensi memicu masalah kejiwaan.

"Saya banyak menangani pasien yang mengalami penumpukan emosi, sehingga memicu gangguan kejiwaan. Numpuk, lalu akhirnya depresi," katanya.




Tonton juga video Ledakan di Pos Polisi Kartasura Sukoharjo, Berasal dari Bom Bunuh Diri:

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)