Jumat, 14 Jun 2019 18:13 WIB

Hari Donor Darah Sedunia, 5 Mitos Ini Masih Sering Dipercaya

Firdaus Anwar - detikHealth
4 Juli diperingati sebagai Hari Donor Darah Sedunia. (Foto ilustrasi: Rachman Haryanto) 4 Juli diperingati sebagai Hari Donor Darah Sedunia. (Foto ilustrasi: Rachman Haryanto)
Jakarta - Setiap tanggal 14 Juni dirayakan Hari Donor Darah Sedunia dengan harapan bisa meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat menyumbang darah. Tema Hari Donor Darah Sedunia tahun ini menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah "darah aman untuk semua".

"Tema kali ini sangat mendorong lebih banyak orang di seluruh dunia untuk menjadi donor darah dan menyumbangkan darahnya secara teratur," tulis WHO dalam situs resminya dikutip pada Jumat (14/6/2019).

Terkait hal tersebut mitos dan informasi keliru masih jadi hal yang menghalangi aktivitas donor darah. Beberapa mitos ini contohnya sering dipercaya masyarakat:


1. Tahun ini sudah, maka tak bisa donor darah lagi
Orang dewasa rata-rata memiliki lima liter darah dalam tubuh, tergantung pada berat badannya. Sekali menyumbangkan darah rata-rata mengambil sekitar 500 ml yang akan digantikan oleh tubuh dalam waktu sekitar enam minggu.

Oleh karena itu seseorang bisa mendonasikan darahnya setiap tiga bulan sekali. Jadi tidak ada alasan cuma bisa donor darah sekali selama setahun karena takut darah habis.

2. Orang yang ditato tidak bisa jadi donor
Tidak ada larangan yang menyebut orang-orang dengan tato tidak bisa menjadi donor darah. Namun memang ada waktu tunggu bagi mereka yang baru saja mendapat tato, tindik, atau ke dokter gigi sebelum boleh menyumbang darah.

Panduan WHO menyarankan waktu tunggu 6 bulan sesudah mendapat tato, 12 jam sesudah mendapat tindik dari profesional, dan 24 jam sesudah kunjungan ke dokter gigi, serta sebulan sesudah operasi gigi sebelum menjadi donor darah.

3. Jadi donor rentan tertular penyakit
Pernyataan ini salah besar. Setiap kali digelar donor darah, lembaga seperti PMI (Palang Merah Indonesia) akan memastikan setiap prosedur pengambilan darah terjamin aman seperti menggunakan jarum sekali pakai.

Penyakit seperti human immunodeficiency virus (HIV) hanya dapat menyebar melalui transmisi langsung, sehingga membutuhkan jarum baru dan masih steril agar tetap aman.

4. Donor darah menyebabkan kegemukan

Faktanya, menyumbangkan darah tidak mempengaruhi berat badan. Memang ada beberapa orang yang setelah menyumbangkan darah mengonsumsi makanan lebih banyak dari normal dan menghindari latihan. Hal tersebut yang bisa jadi penyebab kenaikan berat badan.

5. Diabetesi tidak bisa jadi donor

Orang-orang dengan diabetes tetap bisa menyumbangkan darahnya. Hanya saja pastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit sebelum jadi donor dan sudah berkonsultasi dengan dokter.

(fds/frp)