Rabu, 19 Jun 2019 07:45 WIB

5 Fakta Ekshibisionisme, Kecenderungan Suka Pamer Aktivitas Cabul

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Pelaku ekshibisionisme senang memamerkan organ intimnya. (Foto ilustrasi: iStock) Pelaku ekshibisionisme senang memamerkan organ intimnya. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta - Sepasang pasutri di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Mereka berdua diduga memamerkan hubungan seksual kepada beberapa anak yang masih di bawah umur.

"Berdasarkan investigasi di lapangan, pelaku ternyata masih satu RT dengan korban (para bocah). Mereka diduga menonton adegan intim langsung di kamar pelaku. Nonton lebih satu kali," ujar Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto kepada detikcom, Selasa (18/6/2019).

Perbuatan memamerkan hubungan seksual ini bisa jadi merupakan perilaku seksual menyimpang yang disebut ekshibionisme, yakni perilaku gemar mempertontonkan aktivitas seksual di depan orang lain.

Dalam beberapa kasus, pelaku ekshibisionisme tak sampai melakukan hubungan seks melainkan hanya memamerkan alat vitalnya pada orang asing secara acak di tempat umum. Pelaku mendapatkan kepuasan seksual dari reaksi orang yang terkaget-kaget atau bahkan panik melihat ulahnya.

Dirangkum dari artikel terdahulu, berikut 5 fakta ekshibisionisme yang kamu perlu tahu.


1. Bukan sekadar 'telanjang' di depan umum

Seksolog Dr Justin J. Lehmiller penulis buku "The Psychology of Human Sexuality" menuturkan karakter utama ekshibisionisme adalah dorongan kuat untuk menunjukkan kelamin ke orang lain yang tidak menduganya. Biasanya terjadi di tempat umum dengan rute kabur yang mudah.

"Tujuan utama adalah untuk menimbulkan reaksi kaget dari korban, yang bagi seorang ekshibisionis bisa merangsang birahi," kata Dr Justin dalam blog pribadinya.

Karenanya, mereka yang dalam pengaruh obat-obatan atau mabuk tidak menjadi tanda ekshibionisme karena tidak adanya motif atau dorongan seksual tertentu.

2. Perempuan juga bisa jadi pelaku

Memang seringkali pelaku ekshibionisme adalah pria namun tidak menutup kemungkinan para wanita tak pernah melakukan hal yang sama. Psikiater Dadang Hawari menuturkan seorang wanita pun bisa memamerkan tubuhnya dengan cara-cara yang mengganggu.

"Pertunjukan erotis yang dilakukan perempuan sehingga merangsang lawan jenisnya, itu termasuk eksibisionis. Itu eksibisionis komersil," kata Dadang.

3. Korban terkejut menjadi sumber kepuasan pelaku

Psikiater dari RS Omni Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik, berujar ekspresi kaget dan terkejut dari korban bisa menjadi sumber kepuasan tersendiri bagi para pelaku eksibisionis.

Karenanya, dr Andri menyarankan agar seseorang yang menghadapi pelaku sebisa mungkin tidak heboh menanggapinya. Sebab pelaku akan merasa kecewa jika korban bersikap cuek.

"Jadi biasa saja sikapnya. Kalau kita biasa saja, malah membuat dia akan lebih tidak nyaman karena tujuannya tidak berhasil," kata dr Andri.



4. Pelaku merasa inferior

Pemicu eksbisionis salah satunya yakni karena sebetulnya mereka atau pelaku merasa inferior atau merasa berkuasa terhadap lingkungannya sehingga tidak takut atau malu akan apapun.

"Akhirnya dia merasa seperti berkuasa, ketika ia mampu menakut-nakuti atau mendapatkan reaksi kaget dari orang lain ketika dia melakukan eksibisionisme tersebut," kata dr Andri.

5. Bisakah disembuhkan?

Seksolog dari Universitas Udayana Prof dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, penyimpangan semacam ini tak bisa disembuhkan. Lebih umum terjadi pada pria, dengan jumlah pelaku yang terbilang sangat jarang.

"Terapi yang diterima pelaku mungkin hanya bisa menahan sebentar. Ekshibisionisme masuk dalam paraphilia sama seperti pedophilia," kata Prof Wimpie pada detikHealth beberapa waktu lalu.

(kna/up)