Sabtu, 22 Jun 2019 11:14 WIB

Kenapa Orang yang Tampak 'Baik-baik Saja' Bisa Tiba-tiba Bunuh Diri?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi bunuh diri yang bisa terjadi pada orang yang terlihat biasa saja. Foto: Thinkstock Ilustrasi bunuh diri yang bisa terjadi pada orang yang terlihat biasa saja. Foto: Thinkstock
Jakarta - Angka kejadian bunuh diri di Indonesia terlihat makin meningkat. Dalam seminggu terakhir, terdengar dua kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan mahasiswa. Salah satu di antaranya disebut-sebut bahkan mendukung gerakan pencegahan bunuh diri, tersirat dari foto profil di media sosialnya.

Depresi menjadi alasan terbesar mengapa sedimikian banyak orang ingin mengakhiri hidup. Memiliki beban yang tersimpan bertahun-tahun menjadikan mereka lebih memilih untuk 'pergi' karena menganggap dunia tak lagi layak ditinggali.

Dari kasus tersebut, bisa digarisbawahi bahwa pemikiran bunuh diri pun bisa datang bahkan dari orang yang terlihat baik-baik saja. Pendiri Komunitas Pencegahan Bunuh Diri, Into the Light, Benny Prawira, mengatakan kita sebenarnya sudah tahu banyak cara untuk mencegah bunuh diri. Sayangnya, beragam cara itu tidak cocok dengan semua orang karena faktor personal.

"Secara general ada beberapa hal yang bisa dilakukan, tapi ketika kembali ke personal, cara prevent suicide sangat berbeda. Mungkin ada orang yang nyaman dengan kata-kata tertentu, ada yang tidak. Ada yang nyaman ketika menangis, ada yang nyaman ketika dipeluk, ada juga yang tidak. Jadi memang caranya sangat personal dan itu memang tricky banget," kata Benny saat diwawancarai detikHealth, Jumat (21/6/2019).


Ia menambahkan, sampai sekarang sangat sulit sekali untuk mencegah kematian bunuh diri. Ada beberapa step, seperti proses pemikiran bunuh diri, percobaan bunuh diri, kematian bunuh diri yang cara pencegahannya sangatlah berbeda.

"Ketika berbicara mengenai kondisi suicidal, itu saja bisa terjadi dalam hitungan detik. Jadi pernah nggak sih ngebayangin ada teman yang habis ngumpul-ngumpul sama kita nih, ketawa-ketawa, seneng-seneng, tapi memang dia punya riwayat depresi," sebutnya.

"Begitu dia balik, ada kejadian atau trigger darimana pun, itu dalam hitungan detik, pemikiran bunuh dirinya akan muncul. Dan ketika mendapat akses, itu bisa saja dia lakukan. Jadi memang sangat personal dan kondisional banget," sambungnya.

Sebagai orang yang memiliki keinginan untuk bunuh diri, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi, meski tidak bisa mengharapkan agar mereka langsung bisa menahannya.

"Misalnya dengan mindfulness. Dia dibantu untuk berpikir tentang rasa sakit sehingga ketika muncul rasa sakit itu, dia tidak akan berpikir ke arah suicidal tapi lebih hati-hati dan menerima rasa sakitnya," pungkasnya.

(kna/up)
News Feed