Rabu, 03 Jul 2019 12:37 WIB

Waspada Hepatitis B, Kenali Bahaya hingga Pencegahannya

Lusiana Mustinda - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Wabah hepatitis A terjadi di Pacitan dan Trenggalek. Masyarakat pun perlu waspada akan penyakit hepatitis lainnya seperti hepatitis B.

Hepatitis B merupakan infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Ada dua tipe hepatitis B yaitu hepatitis B akut dan hepatitis B kronik.

Infeksi virus hepatitis B akut, penyakitnya bersifat sementara. Biasanya terjadi selama 6 bulan pertama setelah seseorang terpapar HBV. Sedangkan untuk infeksi virus hepatitis B kronik, penyakitnya bersifat jangka panjang. Terjadi karena virusnya bertahan di dalam tubuh.

Penyakit hepatitis B akut lebih sering terjadi pada orang dewasa. Sedangkan hepatitis B kronis biasanya terjadi pada bayi dan anak-anak.

Beberapa ciri-ciri umum hepatitis B antara lain:

1. Kehilangan nafsu makan.
2. Mual dan muntah.
3. Nyeri di perut bagian bawah.
4. Kulit dan bagian putih pada mata menguning.
5. Mudah lelah, nyeri pada tubuh dan sakit kepala.
6. Gatal-gatal dan feses berwarna pucat seperti dempul.


Penyebaran Hepatitis B di Indonesia

Menurut hasil riset Kesehatan Dasar tahun 2015 menunjukkan bahwa penderita hepatitis di Indonesia mencapai 28 juta orang. Setengah dari jumlah tersebut berpotensi untuk menjadi kronis dan 10 persennya akan berisiko alami sirosis atau bahkan kanker hati.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 680 ribu orang meninggal dunia setiap tahun akibat komplikasi hepatitis B.

Sehingga dari data tersebut, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pengidap hepatitis B terbanyak di dunia.

Pencegahan Hepatitis B:

Pencegahan hepatitis B dapat dilakukan melalui vaksin. Di Indonesia pemberian vaksin wajib dalam imunisasi. Proses pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali yaitu saat anak lahir, anak berusia 1 bulan dan, pada saat anak berusia 3-6 bulan.

Meskipun begitu, orang dewasa yang memiliki risiko terpapar penyakit hepatitis B harus melakukan vaksin, seperti:

1. Petugas kesehatan medis (paramedis) yang berisiko terpapar virus hepatitis B.
2. Orang yang tinggal serumah dengan penderita hepatitis B.
3. Penderita penyakit hati kronis.
4. Orang yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual.

Pemeriksaan hepatitis B juga dapat diterapkan pada ibu hamil. Jika ibu mengidap penyakit ini, sang bayi harus menerima vaksin pada saat lahir sekitar 12 jam setelah persalinan untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi.

Berikut ini beberapa langkah mengurangi risiko terkena hepatitis B:

1. Hindari berbagi penggunaan barang-barang seperti jarum suntik, gunting kuku, handuk, alat cukur atau sikat gigi
2. Jangan berhubungan seks tanpa alat pengaman kecuali Anda yakin pasangan tidak memiliki penyakit hepatitis B.
3. Bersihkan atau buang benda-benda yang terkena darah penderita hepatitis B.

Pengobatan Hepatitis B:

Untuk pengobatan hepatitis B (HBV) setiap orang berbeda. Hepatitis B bisa sembuh ketika daya tahan tubuh semakin membaik. Hal ini dapat didukung dengan konsumsi makanan sehat dan juga selalu berkonsultasi ke dokter terhadap perkembangan penyakit ini.



Simak Video "Viral! ODGJ Bantu Buka Jalan Ambulans di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/nwy)