Kamis, 11 Jul 2019 17:30 WIB

Banyak Remaja Merokok, Menkes Minta Guru Tak Beri Contoh Buruk

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi rokok. Foto: Thinkstock Ilustrasi rokok. Foto: Thinkstock
Jakarta - Perokok kini tak memandang usia. Anak-anak dan remaja di Indonesia pun sudah berani untuk mengisap rokok yang jelas-jelas dapat membahayakan tubuhnya.

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi perokok pada anak-anak dan remaja Indonesia di bawah 18 tahun meningkat, dari yang sebelumnya 7,2 persen menjadi 9,1 persen.

Melihat hal yang cukup miris ini, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyoroti peraturan yang ada di sekolah dan meminta para guru untuk tidak merokok juga.

"Kita dorong lagi Mendikbud, pada anak sekolah, gurunya juga tidak boleh merokok. Jadi menjadi contoh, saya kira kita harus dorong di sekolah, bukan hanya di luar sekolah tapi di dalam sekolah juga harus tegas mengatakan tidak boleh merokok," ujarnya saat rangkaian acara Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Prof. Sujudi Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (11/7/2019).



Menurut Menkes Nila, meningkatnya prevalensi perokok pada anak-anak dan remaja salah satunya karena mudahnya iklan maupun sponsor rokok beredar di media sosial. Mengingat media sosial digunakan oleh segala umur.

"Kita harus menurunkan (jumlah) rokok pemula, harus mencapai 5 persen," tegas Menkes Nila.

Iklan rokok dianggap sangat berpengaruh membuat anak-anak dan remaja terpikat untuk mencoba rokok. Sebagaimana yang kita tahu, rokok merupakan penyebab utama dari kanker dan penyakit tidak menular lainnya. Padahal penyakit-penyakit itu bisa dicegah dengan mengurangi perilaku buruk merokok.



Simak Video "Benarkah Menggunakan Vape Bisa Jadi Depresi?"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)