Senin, 15 Jul 2019 07:05 WIB

Risiko Kanker di Balik Sedapnya Ikan Asin

Rosmha Widiyani - detikHealth
Jadi masalah ketika ikan asin dengan pengawet seperti formalin atau boraks dikonsumsi dalam jangka panjang. (Foto: iStock) Jadi masalah ketika ikan asin dengan pengawet seperti formalin atau boraks dikonsumsi dalam jangka panjang. (Foto: iStock)
Jakarta - Ikan asin lekat dengan image pangan yang murah, enak, dan mudah diolah. Makan ikan asin sebetulnya tak jadi masalah jika tidak terlalu banyak atau sering.

Namun berbeda halnya jika ikan asin dikonsumsi berlebihan. Apalagi jika ikan asin mengandung banyak zat pengawet, misal formalin dan boraks.

"Konsumsi ikan asin berlebihan berisiko mengakibatkan kanker saluran cerna, yang dimulai dari bibir dan rongga mulut hingga lambung. Semua yang dilewatin ikan asin berisiko kena kanker," kata dokter ahli radiasi onkologi dr Denny Handoyo Kirana, SpOnk.Rad.


Risiko ini sesuai alur pengolahan ikan asin dalam saluran cerna. Beberapa risiko kanker yang mungkin muncul adalah rongga mulut, tenggorokan dekat nasofaring, kerongkongan atau esofagus, hingga lambung. Risiko paling besar adalah nasofaring karena letaknya ngumpet.

Nasofaring adalah areal di belakang hidung yang lebih tinggi dari rongga mulut. Menurut dr Denny, areal ini berbahaya karena sulit dijaga kebersihannya. Areal nasofaring tak terjangkau usaha kebersihan setiap hari, layaknya sikat gigi untuk menjaga kebersihan rongga mulut

Letak yang ngumpet juga menyulitkan kontrol di bagian nasofaring. Padahal nasofaring dilewati sirkulasi udara dan pengolahan makanan di dasarnya setiap hari. Tak heran bila kanker nasofaring ditemukan bila ukurannya sudah besar.

Pertumbuhan benjolan ke arah telinga menimbulkan sensasi penuh, bergesekan dengan hidung mengakibatkan mimisan, atau sulit menelan seperti amandel. Kanker nasofaring biasanya diatasi dengan kemoterapi dan radiasi.


Salah satu penikmat ikan asin Ekariyana tak menyangka asupan tersebut berkontribusi mengakibatkan kanker nasofaring. Lelaki asal Blora, Jawa Tengah ini mengatakan tak perlu lauk lain jika sudah ada ikan asin dan sambal terasi.

"Dulu saya tidak tahu kalau ikan asin bisa mengakibatkan kanker. Sekarang saya menghindari ikan asin, paling konsumsi 1 kali setahun ngobatin kangen. Dikit aja cuma buat inget begini lho rasanya," kata Eka yang kini berusia 46 tahun.

Eka menjalani pengobatan selama kurang lebih 6 bulan, yang berakhir pada Agustus 2014. Sejak didiagnosa pada Februari 2014, Eka menjalani kurang lebih 30 radiasi, 3 kali kemoterapi dengan periode 3 bulan, dan 6 kali terapi kemoterapi periode mingguan. Eka kini memasuki tahun kelima pemulihan kanker.


Ikan asin tentunya bukan menjadi faktor risiko satu-satunya kanker nasofaring. Gaya hidup, geografis, dan ekonomi ikut berperan mengakibatkan kanker di masyarakat. Pertumbuhan kanker bisa dicegah dengan tidak merokok, olahraga, makan sehat, dan rutin cek kesehatan.

Bagi penikmat ikan asin, dr Dante mengatakan masih bisa menimati makanan favoritnya. Namun sebaiknya jangan terlalu sering serta tahu proses pembuatan dan kualitas bahannya. Ikan asin yang hendak dikonsumsi harus terbuat dari bahan segar serta tanpa pengawet, untuk menekan risiko terjadinya kanker.



Simak Video "Kenali Ciri-ciri Makanan Mengandung Formalin atau Boraks"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)