Sabtu, 27 Jul 2019 19:05 WIB

Polusi Jakarta dan Rendahnya Teknologi Kendaraan Bermotor Indonesia

Widiya Wiyanti - detikHealth
Petugas Sudin Jakut melakukan eji emisi kendaraan. (Foto: Pradita Utama) Petugas Sudin Jakut melakukan eji emisi kendaraan. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Sisa pembakaran tak sempurna dari mesin kendaraan disebut jadi faktor yang paling berkontribusi membuat kualitas udara di DKI Jakarta menjadi buruk. Peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan Dr Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSC dari Universitas Indonesia menyinggung rendahnya kualitas bahan bakar dan teknologi mesin kendaraan bermotor di Indonesia.

Untuk bahan bakar Indonesia saat ini menurut Budi masih mengacu pada standar Euro 2 sementara sebagian besar negara menerapkan standar Euro 4. Semakin tinggi standar maka akan semakin tinggi pula kualitas bahan bakar yang harus dijual dan dengan demikian meminimalisir terjadinya polusi udara dari pembakaran tidak sempurna mesin kendaraan.


"Pembakaran bahan bakar kita bagus kalau pakai euro 4, kita euro 2 masih kurang. Kadar sulfurnya sangat rendah," kata Budi pada detikHealth.

Teknologi mesin kendaraan yang mumpuni disebut juga diperlukan untuk mengurangi polusi sisa pembakaran. Oleh karena itu sangat penting dilakukan pengujian kelayakan rutin untuk mengetahui efisiensi sebuah kendaraan.

"Misal kendaraan yang di bawah tahun 2000 kan teknologinya belum bagus, bensin udah bagus, ga seimbang. Jadinya tidak membakar dengan sempurna. Makanya kalau di Jepang kendaraan yang udah 10 tahun dibuang. Lah kita masih dipakai, udah ketinggalan jaman," ungkap Budi.

Jakarta pada Sabtu (27/7) pagi sempat menempati ranking 2 kota dengan kualitas udara terburuk sedunia. Pantauan AirVisual melihat skor Index Air Quality (AQI) Jakarta berada di angka 167.

AQI merupakan indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara di suatu daerah. AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, seperti PM 2,5, PM 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Rentang nilai dari AQI adalah 0 sampai 500. Semakin tinggi nilainya menunjukkan semakin tinggi tingkat polusi udara di wilayah tersebut. Skor 0-5 berarti kualitas udara bagus, 51-100 berarti moderat, 101-150 tidak sehat bagi orang yang sensitif, 151-200 tidak sehat, 201-203 sangat tidak sehat, dan 301-500 ke atas berarti berbahaya.



Simak Video "Cara Natasha Rizky Lindungi Keluarga dari Polusi"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)