Selasa, 20 Agu 2019 17:11 WIB

Pemeran 'Seks Gangbang' Positif HIV, Ini yang Perlu Dilakukan Usai Diagnosis

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi diagnosis HIV positif. Foto: iStock Ilustrasi diagnosis HIV positif. Foto: iStock
Jakarta - Bos salon dari kasus video 'seks gangbang' di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang baru-baru ini viral diketahui terdiagnosis positif HIV (Human Immunodeficiency Virus). A alias Rayya dilaporkan terdiagnosis usai menjalani pemeriksaan kesehatan.

Diagnosis positif ini bisa didapatkan dari tes yang tidak lebih rumit, yakni seperti tes golongan darah pada umumnya. Pengidap HIV harus segera mengonsumsi obat bernama antiretroviral (ARV).

Akan tetapi saat seseorang positif terdiagnosis HIV, rasanya seperti mendengar vonis mati karena penyakit ini memang tak bisa disembuhkan. Hal ini bisa menghambat penanganan dan pengobatan. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan setelah terdiagnosis, seperti dirangkum dari WebMD:



1. Segera temui dokter
Setelah terdiagnosis HIV, sebagian besar pasti akan merasa terpuruk akan masa depan. Rasa terpuruk ini bisa menghambat seseorang untuk mencari bantuan atau pertolongan ahli.

Terlambat mencari bantuan bisa berarti terlambat mendapat penanganan pula. Oleh karena itu, setelah terdiagnosis segera cari dokter yang berpengalaman menangani HIV dan AIDS untuk mendapatkan penanganan dan jangan sampai menundanya.

Pada umumnya, dokter akan menjalankan tes seberapa baik sistem imun bekerja, seberapa cepat progres HIV di dalam tubuh, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dengan mendapatkan semua informasi ini, dokter bisa menyusun rencana perawatan untuk mencegah HIV menjadi serius dan bahkan bisa menyebabkan kematian.

2. Pelajari soal HIV
Mempelajari soal penyakit yang kita idap merupakan salah satu gerakan yang baik untuk membantu mempercepat pemulihan. Informasi sangatlah kuat dan bisa menolong nyawa kita.

Beberapa langkah untuk mempelajari HIV setelah terdiagnosis positif, antara lain:

- baca mengenai HIV di beberapa situs kesehatan terpercaya
- mencari informasi dari yayasan, organisasi, atau pemerintah yang berfokus pada HIV dan AIDS
- pelajari pengobatan HIV baik eksperimental dan standar, dan juga efek sampingnya
- cari dan berbincanglah dengan sesama pengidap HIV positif atau ODHA (orang dengan HIV/AIDS)


3. Cari layanan bantuan (support group)
Penyakit apapun membutuhkan dukungan yang cukup dari orang-orang sekitar ataupun dari support group. Sebagai pengidap HIV positif, baik dukungan emosional serta fisik sangat dibutuhkan untuk bisa menjalani pengobatan.

Tak hanya support group, beberapa profesional dalam bidang kejiwaan seperti psikolog atau psikiater. Beberapa yayasan atau organisasi yang bergerak khusus dalam HIV dan AIDS juga bisa membantu.

4. Waspadai penularan!
Seorang pengidap HIV positif tentu bisa menularkan penyakit tersebut ke orang lain, walau ia tidak merasakan sakit. Bukan seperti mitos-mitos yang beredar, HIV hanya ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah dan sperma atau air mani.

Hindari berhubungan intim tanpa pengaman atau berbagi jarum. Gunakan kondom dan pastikan jarum yang digunakan steril dan bersih. Ini juga termasuk jangan mendonorkan darah.

Pengidap wanita bisa menularkan HIV pada bayi saat kehamilan, kelahiran, atau menyusui. Diskusikan dengan dokter apa yang bisa dilakukan untuk mencegah atau meminimalisir kemungkinan tersebut.

(frp/up)