Rabu, 21 Agu 2019 13:21 WIB

Dokter Kerap Salah Diagnosis pada 3 Kondisi Ini

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi salah diagnosis. Foto: Thinkstock Ilustrasi salah diagnosis. Foto: Thinkstock
Jakarta - Salah diagnosis merupakan masalah yang cukup serius. Kesalahan ini dapat menyebabkan kematian atau kecacatan permanen, selain itu juga membutuhkan biaya yang lebih mahal dan berbahaya.

Sebuah penelitian dari Johns Hopkins University menganalisis lebih dari 55.000 klaim malpraktik yang menjadi dasar pola dari salah diagnosis. Mereka menemukan, jampir tiga perempat atau 74,1 persen dari kesalahan diagnosis yang paling berbahaya dikaitkan dengan tiga kondisi.

Yang paling besar adalah soal kanker sebesar 37,8 persen, masalah yang berkaitan dengan pembuluh darah sebesar 22,8 persen, dan yang berkaitan dengan infeksi sebesar 13,5 persen.

"Bukan hanya merepotkan untuk mendapatkan salah diagnosis, bagi banyak pasien, kesalahan diagnosis menyebabkan kerugian dan biaya yang parah, dan dalam kasus terburuk, kematian," kata penulis utama yang juga seorang profesor neurologi di Johns Hopkins University , David Newman-Toker, MD, PhD dikutip dari Health.



"Studi ini memberi tahu kita bahwa menangani diagnosis di tiga area penyakit spesifik ini dapat memiliki dampak besar pada pengurangan bahaya yang berhubungan dengan kesalahan diagnosis," lanjutnya.

Yang lebih menakutkan, lebih dari setengah kasus salah diagnosis yang dianalisis dari penelitian ini terjadi pada wanita. Wanita lebih mungkin 50 persen mengalami salah diagnosis pada penyakit serangan jantung dibandingkan pria.

Penelitian ini menekankan bahwa kesalahan tidak semata-mata terjadi pada dokter, namun pasien juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi yang lebih jelas dan jujur dalam penyampaian gejala-gejala yang dialaminya.



Simak Video "Bunda, ASI Eksklusif Bisa Lindungi Anak dari Kanker Darah"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)