Sabtu, 24 Agu 2019 05:05 WIB

Round-Up

Bisa Ular Weling dan Tragedi Tewasnya Satpam Perumahan

Firdaus Anwar - detikHealth
Seorang satpam tewas digigit ular weling (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Berawal dari laporan ada ular masuk rumah warga di daerah Gading Serpong, seorang satpam bernama Iskandar dilaporkan meninggal dunia setelah digigit ular weling pada Selasa (20/8). Ia disebut kemungkinan tidak sadar risiko bahaya gigitan ular tersebut.

Hal ini menurut polisi tampak dari tindakan Iskandar yang tidak langsung segera mencari bantuan medis. Dalam video yang beredar ia sempat mencoba mengeluarkan bisa dengan menghisap luka gigitan lalu kembali mengobrol.

"Jadi menurut analisa saya, korban ini tidak paham kalau ular itu berbisa," kata Kapolsek Kelapa Dua Kompol Effendi pada detikcom.



Kasus yang menimpa Iskandar menyulut perhatian terhadap penanganan gigitan ular berbisa yang sesuai. dr Wisnu Pramudito D. Pusponegoro, SpB, dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menjelaskan kalau menghisap luka bukan cara yang tepat untuk mengeluarkan bisa.

"Mitosnya luka itu disedot, itu malah enggak boleh karena enggak yakin apakah mulutnya bersih tidak ada luka. Kalau disedot kemudian ada luka kaya gigi bolong atau sariawan otomatis bisanya masuk lewat mulut," kata dr Wisnu saat dihubungi detikHealth, Jumat (23/8/2019).

"Bisa yang masuk lewat mulut pembuluh darah kapilernya lebih banyak jadi malah lebih cepat nyebar ke daerah sentral," pungkasnya.

Tindakan pertolongan pertama yang tepat saat menghadapi gigitan ular berbisa adalah dengan memasang bebat dan membidai daerah luka. Alasannya dijelaskan dr Wisnu untuk meminimalisir gerakan otot sehingga racun tidak cepat menyebar.

Namun harus diperhatikan agar ikatan pada daerah yang luka tidak terlalu kuat sehingga darah tetap bisa mengalir. Bila aliran darah tertutup total risikonya malah bisa memicu kematian jaringan berujung amputasi.



"Kalau memang ada luka gigit langsung organ diistirahatkan atau diimobilisasi kaya patah tulang. Dibebat tapi pakai yang elastis terus langsung bawa ke rumah sakit biar dokter atau tenaga medis yang menilai luka," lanjut dr Wisnu.

Di Indonesia sendiri biasanya serum yang umum digunakan adalah anti bisa ular (ABU) produksi PT Bio Farma. Serum tersebut efektif setidaknya hanya untuk tiga jenis ular yaitu kobra (Naja sputatrix), ular belang (Bungarus fasciatus), dan ular tanah (Agkistrodon rhodostoma).

Gigitan ular weling, welang, atau belang diketahui bersifat neurotoksin. Ini berarti bisa ular bekerja dengan cara melumpuhkan saraf hingga akhirnya korban meninggal karena gagal napas.

"Jadi itu biasanya neurotoksin. Otot-otot paralisis kemudian menyebar ke otot napasnya yang paralisis lumpuh makanya sesak. Meninggalnya karena itu," pungkas dr Wisnu.



Simak Video "Diklaim Pertama di Dunia, Vaksin Corona Rusia Diragukan Ilmuwan"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)