Senin, 26 Agu 2019 14:00 WIB

5 Hal yang Bisa Pengaruhi Peluang Bertahan Hidup Korban Luka Bakar Parah

Firdaus Anwar - detikHealth
Peluang bertahan hidup korban luka bakar bisa dipengaruhi berbagai faktor. (Foto: iStock) Peluang bertahan hidup korban luka bakar bisa dipengaruhi berbagai faktor. (Foto: iStock)
Jakarta - Ipda Erwin, polisi yang terbakar hidup-hidup saat mengawal mahasiswa demo di Cianjur meninggal dunia pada Senin (26/8) dini hari. Ipda Erwin sempat mendapatkan perawatan medis namun kondisi luka bakar yang mencakup sekitar 64 persen tubuhnya dinilai cukup berat.

"Memang pasien mulai kondisinya turun naik itu, tensinya mulai kurang stabil itu hari Jumat. Kemudian hari Sabtu tensinya sudah cenderung turun, sampai hari Minggu dini hari tensinya tidak dapat naik kembali," kata Kepala Managemen Bisnis RSPP Agus W Susetyo.

Dikutip dari Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency Medicine memang ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi peluang bertahan hidup pasien korban luka bakar. Apa saja itu? Berikut rangkumannya.


1. Keparahan luka dan kondisi kesehatan pasien

Hal pertama yang cukup mempengaruhi peluang bertahan hidup adalah tingkat keparahan luka dan kondisi kesehatan pasien.

Luka parah yang luas dan dalam bahkan sampai mempengaruhi sistem pernapasan bisa semakin memperkecil peluang bertahan hidup. Kondisi ini akan sulit bila pasien sebelumnya sudah memiliki kondisi kesehatan lain.

Usia pasien juga kemungkinan berpengaruh dengan semakin muda maka peluangnya utuk bertahan dan sembuh juga lebih tinggi dibandingkan pasien tua.

2. Waktu operasi

Dalam studi waktu operasi pengangkatan jaringan mati disebut juga bisa mempengaruhi peluang bertahan hidup. Semakin cepat kondisi pasien stabil dan dioperasi maka peluangnya akan semakin tinggi.

Peneliti menyebut kemungkinan hal ini berkaitan dengan peluang pasien terkena infeksi. Semakin lama jaringan mati dibiarkan maka kuman akan semakin mudah berkembang menyerang pasien.

"Ada penurunan angka kematian secara signifikan bila dilakukan operasi eksisi dini (dalam 72 jam) untuk pasien usia 17 hingga 30 tahun tanpa cedera inhalasi. Tapi tidak ada perbedaan angka kematian untuk pasien usia 30 tahun ke atas," tulis peneliti dalam jurnal.

3. Komplikasi infeksi

Masalah infeksi jadi hal yang sangat diperhatikan pada pasien luka bakar. Alasannya dengan kondisi tubuh penuh luka maka berbagai kuman penyakit sangat mudah untuk masuk ke aliran darah menyebabkan masalah.

Sepsis dan pneumonia disebut jadi kondisi infeksi yang paling banyak menyebabkan kematian pada pasien luka bakar.

4. Tempat perawatan

Menurut peneliti fasilitas tempat perawatan tampaknya juga bisa turut berkontribusi terhadap peluang bertahan hidup pasien. Intensive care unit (ICU) yang khusus untuk perawatan luka bakar mungkin akan memberikan peluang lebih baik dibandingkan ICU umum.

"ICU khusus luka bakar bisa jadi prediktor hasil yang lebih baik dibandingkan ICU polivalen karena koordinasi terapi yang memadai dengan isolasi pasien dan pembedahan rekonstruktif," tulis jurnal.

5. Kondisi mental

Terakhir kondisi mental pasien turut ikut berkontribusi terhadap proses penyembuhan luka. Dukungan keluarga dan orang terdekat dibutuhkan karena meski sudah keluar dari rumah sakit pasien yang mengalami kecacatan akibat lukanya rentan mengalami depresi.



Simak Video "Benarkah Penderita Maag Tidak Boleh Minum Air Dingin?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)