Sabtu, 31 Agu 2019 05:30 WIB

Kisah Inspiratif Mangku Sitepoe, Dokter Bertarif Rp 10 Ribu di Jaksel

Michelle Natasya - detikHealth
dr Mangku Sitepoe rela dibayar Rp 10 ribu demi membantu sesama (Foto: Rengga Sancaya/detikHealth)
Topik Hangat Dokter Rp 10 Ribu
Jakarta - Kisah inspiratif datang dari seorang dokter berusia 84 tahun. Kakek bernama lengkap Mangku Sitepoe ini mengabdikan diri untuk menolong masyarakat berpenghasilan rendah dengan memberikan pelayanan kesehatan dan rela dibayar hanya Rp 10 ribu.

Bersama 3 rekannya pada tahun 1995, pria kelahiran tanah Deli, Sumatera Utara ini menggagas klinik pengobatan gratis yang diberi nama Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Santo Yohanes Penginjil di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Klinik ini bediri dengan niat tulus untuk membantu sesama.

"Saya ingat waktu itu salah satu rekan saya, Prof Iwan Dharmansyah mengatakan bahwa setiap individu yang punya akal sehat pasti punya yang namanya altruisme di mana orang tersebut punya keinginan untuk membantu sesama," kata dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sumatera Utara (USU) ini.

Selain itu, pengobatan gratis biasanya hanya dilakukan sekali, sedangkan beberapa penyakit membutuhkan waktu pengobatan yang lama. Berangkat dari kepedulian tersebut, didirikanlah balai pengobatan gratis bakti sosial berkesinambungan.

Sampai tahun 2000-an pengobatan tidak dipungut biaya sepeserpun, termasuk obat-obatan juga diberikan gratis. Namun, karena ada oknum-oknum nakal yang menjual kembali obat-obatan yang diberikan, sejak saat itu pengobatan mulai berbayar. Awalnya cuma Rp 2.500, dan sampai saat ini menjadi Rp 10 ribu.

Tahun 2003, karena klinik semakin ramai, dibukalah cabang dengan nama Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Santo Tarsisius di Kebayoran Lama.



Berpraktik bagi dr Mangku tak semata-mata cuma untuk cari uang.Berpraktik bagi dr Mangku tak semata-mata cuma untuk cari uang. Foto: Rengga Sancaya/detikHealth


Dokter-dokter di klinik ini berpraktik atas nilai kemanusiaan. Meskipun hanya berbayar Rp 10 ribu, pengobatan tidak pandang bulu. Setiap pasien diberikan layanan kesehatan yang menyeluruh. Bahkan untuk setiap pasien baru, pemeriksaan terkadang bisa memakan waktu 10 sampai 15 menit.

"Kami sampai saat ini masih mengabdi. Makanya saya ke mana-mana naik angkutan umum mikrolet karena saya juga nggak punya uang. Hanya mengandalkan uang pensiun saja sama bantuan anak-anak. Saya hidup dari situ," tutur dokter Mangku.

Selain mengobati manusia, dokter Mangku juga punya latar belakang sebagai dokter hewan. Bagi dokter Mangku salah satu alasannya berteguh mengabdi menolong sesama dalam bakti sosial adalah karena tujuan hidupnya untuk membahagiakan makhluk hidup.

"Saya nggak pernah praktik untuk cari uang. Kita hidup tuh untuk apa sih? Kalau saya maunya to make others happy. Itu kebanggaan saya, jadi saya ingin membantu sesama. Saya bangga, senang, puas kalau sudah menyembuhkan makhluk hidup," jelasnya sambil tersenyum.

"Kita hidup tuh untuk apa sih? Kalau saya maunya to make others happy." Foto: Rengga Sancaya/detikHealth




Dokter Mangku berpesan bagi dokter-dokter muda untuk terus membantu sesama sesuai dengan sumpah dokter.

"Bukan komersial cari duit saja tapi juga untuk sosial, bisa bantu sesama," pesannya.

Kakek kelahiran Sumatra Utara ini mengaku akan terus berbakti memberikan pelayanan kesehatan sosial bagi sesama makhluk hidup sampai akhir hayatnya.



Simak Video "Dua Lagi Dokter Indonesia Meninggal karena Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)
Topik Hangat Dokter Rp 10 Ribu