Rabu, 04 Sep 2019 12:08 WIB

Studi Sebut Mantan Perokok Rentan Alami Depresi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Telah banyak studi yang menyebut bahwa kebiasaan merokok sangat berbahaya. (Foto: Thinkstock) Telah banyak studi yang menyebut bahwa kebiasaan merokok sangat berbahaya. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Selama bertahun-tahun, telah banyak studi yang menyebut bahwa kebiasaan merokok sangat berbahaya. Nikotin, yang merupakan salah satu senyawa kimia paling lazim dalam rokok, sangat adiktif.

Meski telah banyak yang berhenti merokok, sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang yang berhenti merokok cenderung lebih rentan mengalami depresi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine, mengklaim bahwa orang yang dulu merokok lebih mungkin mengembangkan depresi, dan juga memulai kebiasaan baru yang buruk seperti merokok ganja atau minum alkohol berlebihan.

"Upaya pengendalian tembakau nampaknya berhasil mengurangi perokok. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian kami, lebih banyak dari mereka sekarang menderita depresi dan terlibat dalam penggunaan narkoba yang bermasalah," kata ketua peneliti, Renee D Goodwin, PhD, dari Institute for Implementation Science in Population Health, dikutip dari Medical Xpress.


Selama periode penelitian, kejadian depresi berat meningkat dari 4,88 persen menjadi 6,04 persen, penggunaan ganja selama tahun sebelumnya naik dari 5,35 persen menjadi 10,09 persen, dan minum minuman keras alkohol selama bulan sebelumnya naik dari 17,22 persen menjadi 22,33 persen di antara mantan perokok.

Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi hasil adalah meningkatnya legalisasi, penurunan persepsi risiko yang terkait dengan penggunaan, dan berkurangnya stigma ganja, yang kadang-kadang dapat digunakan oleh perokok yang mencoba untuk berhenti merokok.

Namun, para peneliti mencatat bahwa ketika mantan perokok menggunakannya, mereka meningkatkan kemungkinan mereka kembali ke tembakau.

"Temuan ini mewakili sebuah ancaman. Ancaman terhadap kemajuan yang telah dibuat dalam mengurangi prevalensi penggunaan rokok," imbuh Dr Goodwin.



Simak Video "Benarkah Menggunakan Vape Bisa Jadi Depresi?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)