Selasa, 10 Sep 2019 17:35 WIB

Membuktikan Keperawanan lewat Selaput Dara, Memangnya Bisa?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Selaput dara bisa juga rusak tanpa berhubungan seksual (Foto: thinkstock) Selaput dara bisa juga rusak tanpa berhubungan seksual (Foto: thinkstock)
Jakarta - Curhatan seorang gadis menjadi viral di media sosial lantaran ingin membuktikan pada keluarga tunangannya bahwa ia masih perawan. Hal tersebut didorong karena tunangan dan keluarga meminta hal tersebut.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsep tes keperawanan dilakukan dengan memeriksa keutuhan selaput dara dan/atau dengan memasukkan jari ke vagina. Namun, selaput dara merupakan bagian dari vagina yang sebenarnya bertekstur tipis, yang bisa robek tak hanya akibat berhubungan seksual saja.

Selaput dara bisa koyak karena aktivitas seperti bersepeda, menunggang kuda dan gimnastik, ditambah penggunaan tampon atau bahkan masturbasi. Dan secara kasat mata nyaris tidak ada bedanya dengan kerusakan akibat hubungan seks.

Bahkan dokter sekalipun dalam tes keperawanan jarang membedakan penyebab kerusakan, meski kalau diperiksa secara mendetail memang ada bedanya. Apapun penyebab kerusakan selaput dara, keterangan yang diberikan biasanya hanya tertulis rusak karena benda tumpul.

"Kecuali kasus pemerkosaan, itu penyebab sobeknya selaput dara bisa dipastikan kalau ada bercak sperma dan itu bisa dikaitkan. Itupun pemeriksaannya harus segera, kalau sudah lama tidak bisa," kata dr Prima Progestian, SpOG, seorang seksolog dari Brawijaya Women's Hospital Jakarta Selatan seperti yang pernah diberitakan detikcom sebelumnya.



Yang perlu diketahui, bentuk dan ukuran selaput dara pada tiap-tiap wanita sangatlah berbeda. Bahkan ada wanita yang terlahir tanpa selaput dara sama sekali.

"Normalnya beragam pada ukuran, bentuk, ketebalan, kelenturan dan bahkan bisa tidak ada. Saat kita bayi, selaput dara biasanya tebal dan akan menipis seiring waktu dengan aktivitas yang kita lakukan seperti bersepeda, menunggangi kuda atau mengikuti kelas gimnastik. Terlahir tanpa selaput dara tak akan berdampak pada kesehatan seksual ataupun reproduksi sama sekali," kata Mary Rosser, MD, direktur obstetri dan ginekologi di Montefiore Health System, dikutip dari SELF.

Jika tidak berdampak pada kesehatan seksual ataupun reproduksi, lantas apa sebenarnya tujuan dari selaput dara? Rosser menyebut selaput dara adalah struktur vestigial, yang berarti tak benar-benar memberikan fungsi fisiologis spesifik, seperti usus buntu atau gigi geraham bungsu.

Teori evolusioner mengungkapkan bahwa selaput dara terbentuk untuk melindungi vagina dari bakteri, namun para ahli hingga kini masih belum mendapatkan alasan pasti mengapa selaput dara ada.



Simak Video "Viral! ODGJ Bantu Buka Jalan Ambulans di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)