Selasa, 10 Sep 2019 21:00 WIB

Rokok Tak Boleh Sponsori Olahraga, Bagaimana dengan Junk Food dan Alkohol?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Polemik KPAI vs PB Djarum. Foto: Mustiana Lestari/detikSport Polemik KPAI vs PB Djarum. Foto: Mustiana Lestari/detikSport
Jakarta - Rokok menjadi akar permasalahan polemik antara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan PB Djarum. Saat ini PB Djarum menghentikan audisi pencarian bibit atlet bulutangkis.

Rokok sebetulnya bukan satu-satunya akar polemik, dalam olahraga yang identik dengan kesehatan. Kegiatan olahraga juga menerima sponsor dari junk food dan minuman beralkohol, yang juga berefek tidak baik untuk kesehatan.

Jika rokok jadi polemik, bagaimana dengan junk food dan minuman beralkohol? Sedikit berbeda dengan rokok, hingga kini belum regulasi yang mengatur junk food dan minuman beralkohol.

"Yang sudah jelas adalah susu formula, produk itu jelas tidak boleh menjadi sponsor acara kesehatan yang melibatkan ibu hamil. Selain itu, belum ada regulasi yang tegas mengatur," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Perlindungan Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono, Selasa (10/9/2019).


Menurut Anung, tak ada regulasi seharusnya tidak jadi masalah. Karena secara norma, penyelenggara acara bisa dengan bijak memilih pihak yang pantas menjadi sponsor. Apalagi jika acara yang hendak dilaksanakan bertema kesehatan.

Artinya, produk yang justru berisiko bagi kesehatan bisa ditolak menjadi sponsor. Contohnya junk food, minuman beralkohol, serta produk lain yang beredar di masyarakat.



Simak Video "Penjelasan Dokter Soal Viral Masker Pantyliner untuk Lawan Asap"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)