Kamis, 12 Sep 2019 07:00 WIB

Round Up

Kata Psikolog Soal Fenomena 'Revenge Porn' di Balik Viral Video Mesum

Michelle Natasya - detikHealth
Patah hati kerap menjadi motivasi menyebarkan konten mesum saat masih bersama pasangan (Foto: iStock) Patah hati kerap menjadi motivasi menyebarkan konten mesum saat masih bersama pasangan (Foto: iStock)
Jakarta - Tren revenge porn semakin marak terjadi. Sederhananya, ini merupakan tindakan penyebaran konten pornografi seseorang untuk tujuan balas dendam.

Salah satu kasus revenge porn baru-baru ini terjadi di kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Diberitakan, seorang pria berinisial AIS (34) diduga menyebarkan video adegan seks dirinya dengan seorang perempuan berinisial YS (34) karena tak terima hubungan gelapnya diputuskan secara sepihak. Dugaan ini mencuat karena hanya AIS yang merekam dan memiliki video tersebut. YS kemudian melaporkan kejadian ini ke Polres Sumedang.

Praktisi psikologi, Nuzulia Rahma Tristinarum mengatakan bahwa seseorang mampu atau tega melakukan revenge porn karena secara psikologis rasa sakit hati, luka hati, kemarahan yang terpendam, dan dendam memang bisa menghasilkan perilaku tertentu. Biasanya pelaku akan berpikir untuk melukai orang yang dianggap menjadi penyebab kemarahan tersebut.

"Caranya bisa macam macam, biasanya yang dicari adalah kelemahan korban," kata Nuzulia saat dihubungi detikHealth, Rabu (11/9/2019).

Dalam kasus revenge porn, foto atau video tersebutlah yang dianggap sebagai kelemahan korban sehingga pelaku akan menggunakannya untuk tujuan balas dendam.



Revenge porn mendominasi 33 persen dari 97 kasus keseluruhan kekerasan terhadap perempuan di dunia online yang dilaporkan ke Komnas Perempuan. Perempuan memang lebih rentan menjadi korban revenge porn.

Menurut Nuzulia, korban revenge porn secara psikologis berisiko mengalami shock, trauma, bahkan depresi. Nuzulia berpesan bagi korban revenge porn untuk mencari dukungan atau support system. Korban juga dapat melaporkan kasusnya kepada pihak berwajib.

"Jika secara psikis korban masih merasa terganggu. Merasa tidak aman, terancam, takut, maka bisa mencari bantuan ahli seperti psikolog," pesannya.

Dalam wawancara terpisah, psikolog Gracia Ivonika dari Personal Growth mengatakan bahwa sejak awal menjalin hubungan, setiap pasangan perlu saling terbuka untuk mengomunikasikan batasan-batasan dalam hubungan mereka. Termasuk dalam hal seksual. Ketika pasangan meminta melakukan hal demikian, maka diperlukan ketegasan dan konsistensi dalam menyampaikan penolakan tersebut disertai dengan penjelasan.

"Bila pasangan masih menunjukkan tanda pemaksaan atau membuat korban mulai merasa tidak nyaman, korban berhak untuk memastikan keamanan mereka. Ia bisa menjaga jarak terlebih dahulu dengan pasangan, menceritakan pada orang yang dapat dipercaya, atau mencari perlindungan hukum bila memang diperlukan," pungkasnya.



Simak Video "Kisah Pasangan Suami-Istri Abdikan Hidup Jadi Relawan Inkubator"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)