Senin, 16 Sep 2019 09:56 WIB

Dokter Ingatkan Risiko Hipoksia Akibat Kabut Asap Kebakaran Hutan

Widiya Wiyanti - detikHealth
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro
Jakarta - Berdasarkan data dari AirVisual, pagi ini kualitas udara di Pekanbaru dan Palangka Raya masih dinyatakan dalam kategori berbahaya. Ini disebabkan karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera.

Melihat kondisi buruknya kualitas udara di sana, praktisi kesehatan dan akademisi Prof Ari Fahrial Syam pun mengkhawatirkan kondisi masyarakat di sana yang rentan terserang hipoksia, suatu keadaan kekurangan oksigen yang dapat mengakibatkan permasalahan-permasalahan kesehatan.

"Hipoksia seharusnya kita hindari apalagi pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pada pembuluh darah, baik pada pembuluh darah otak maupun pembuluh darah jantung. Kadar oksigen yang rendah menyebabkan jantung akan mengalami penurunan suplai oksigen yang berat yang yang dapat menyebabkan terjadinya infark atau kematian jaringan," katanya melalui pesan singkat yang diterima detikcom, Senin (16/9/2019).



Prof Ari menambahkan, orang yang sudah mempunyai masalah pada pembuluh darah otak, saat kekurangan oksigen bisa memperburuk kondisi tubuhnya hingga mengakibatkan tidak sadarkan diri.

Sebuah penelitiannya membuktikan bahwa kondisi hipoksia sistematik kronik dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal, jantung, dan juga lambung. Risiko hipoksia pun disebut Prof Ari bisa diprediksi dengan mengetahui penurunan kadar oksigen yang terjadi akibat asap yang menutup.

"Untuk sementara memang masyarakat dianjurkan untuk tidak terhirup asap dan mencegah untuk tidak berada di luar rumah saat jumlah asap masih tinggi," tegas Prof Ari.



Simak Video "Ngobs Kuy! Duka Kabut Asap"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)